Laman

Monday, June 27, 2011

MESOPOTAMIA

Mesopotamia

Mesopotamia adalah daerah yang berada di antara sungai Eufrat dan sungai Tigris. kata mesopotamia berasal dari kata yunani yakni mesos artinnya tengah dan potamos artinya sungai . Bangsa yang menduduki Mesopotamia adalah bangsa Sumeria , bangsa ini mulai mengenal tulisan yang disebut tulisan paku yang di ukir ke dalam tanah liat yang di keringkan. Bangunan rumah mereka berasal dari bata karena mereka sulit mencari batu.bansa sumeria sendiri beragam politeisme (percaya terhadap banyak tuhan datu dewa) dewanya antara lain Anu yang berarti dewa langit, Ea dewa air dan Enlil dewa bumi . dewa Enlil dipercaya oleh bansa sumeria dewa yang paling berkuasa.

Pada tahun 3000 SM berdirilah negara- negara kota diantaranya yaitu Ur. Larsa dan Lagasy. Mereka berperang satu sama lain untuk memiliki kekasaan penuh di mesopotamia hilir yang berlangsung selama kira-kira 500 tahun. Karena peperangan ini pertahan mereka semakin melemah dan akhirnya serbuan dari bangsa lain pun berdatangan mulai dari bangsa akkadia yang dipimpin raja Sargon menaklukkan Sumeria pada tahun 2350 SM selang slama kira- kira 400 tahun bangsa Akkadia ditaklulkkan oleh bangsa Amorit kekuasaan memusat ke Babilon, Babilonia menjadai sebutan yang umum bagi Mesopotamia di karanakan pemerintahan nyua yang memusat di Babilon . Bangsa Amorit ini melakukan perubahan ynag besar di Mesopotaia dinataranya dewa yang dipersaya di Mesopotamia berubah yang dahulunya dewa Enlil yang paling berkuasa beruban menjadi dewa Marduk dewa dari bangsa Amrorit bahkan dewa ini depercaya oleh bangsa lain seperti bangsa Kassit sampai bangsa persia. Lalu bangsa Amorit di gantikan oleh bangs Akkadia yang dipimpin oleh Hammurabi yang berlangsung sinkat antara tahun 1700 Sm sampai 1000 sm . pada massa pemerintahannya raja Hammurabi mengeluarkan Undang- undang yang berdasarkan azas pembalasan :"mata di balas oleh mata gigi di balas gigi " keadilan dinggap terpenuhi jika setiap perbuatan di balas dengan setimpal atas perbuatan yang dilakukan.

lalu bangsa ini di gantikan oleh bangsa Asiria yang terkenal kejam . Bangsa ini mampu membuat Imperium yang besar yakni Kemaharajaan batas imperiumnya meliputi seluruh Mesopotamia dan Mesir sebagai jajahannya. Namun bangsa Asiria yang terkenal kejam itu memiliki raja yang baik bernama Asurbanipal yang mempunyai perpustakaan di Istananya menyimpan kira- kira 200 lempeng tulisan paku.

bangsa ini berakhir kekuasaanya ketika dipimpin oleh raja Esarhaddon (681-669 SM) yang memusat di Nineveh. di sebab kan oleh pemberontakkan oleh gabuangan bangsa- bangsa antara lain khaldea dan babilonia dan pasukkan Nebukhadnezer Nineveh pun berhasil di taklukkan, keadaan babilonia kembali seperti semula dan Nebukhadnezer (605-562 sm) yang menjadi raja yang memiliki taman bergantung atau sering di sebut "taman gantung bailonia" yang dipersembahkan untuk istrinya, taman ini juga termasuk kedalam 7 keajaiban dunia. Namaun kekuasaaannya tidak berlangasung lama karena di srbu oleh bangsa Persia dan Imperiumnya meluas

Saturday, June 25, 2011

Puisi Anak Kedokteran

Hari itu, ketika tubuhku pada metabolisme nya
yang terendah...

Mataku berakomodasi tak percaya...
Benarkah yang tertangkap oleh nervi optici-ku??

Dalam sms mu...
Katamu, akulah nukleus kehidupanmu...
Katamu, jika kau flagelatta, maka akulah ATP...
Katamu, jika kau inflamasi, akulah prostaglandin...

Sadarkah kau??
Kau berhasil membuatku mengalami hipertensi
fisiologis dan tachycardi
Perintahkan membrana tympani mu mendengar
seluruh discuss vertebralis ku berkata...

"Setiap cardiac outputku membutuhkan
pacemaker darimu.
Setiap detail gerakan glossus mu merangsang
saraf simpatisku."

"Ucapan selamat malammu laksana diazepam...
Ucapan "jangan menangis, sayang"mu bagaikan
valium bagiku...
Dan ketika kau pergi...terasa bagaikan
imunosupresi untukku..."

Apa yang terjadi padaku??

Cinta kau bilang??
Tak pernah kudengar Dorland mengucapkannya...
Di jurnal mana aku bisa memperoleh Randomised
Control Trial dengan Double Blind tentang nya??

Diagnosa aku...
Infus aku dengan cairan elektrolit "aku milikmu"...
Dan kita akan mengaktivasi seluruh sistem organ
kita bersama-sama...
Sampai brain stem death memisahkan kita...

Sketsa Kehilangan

Ku ayunkan kakiku menyusuri setiap sudut desa kecil ini. Setiap lorongnya aku susuri. Tapi anak-anakku belum juga aku temukan. Padahal aku baru melahirkan mereka kemarin.
Desa ini sudah ditinggalkan. Hanya ada aku yang masih berkutat dengan pencarian anak-anakku. Kemarin orang-orang berlalu-lalang membawa harta benda, keluarga, dan tentunya anak-anak mereka. Pikiranku kembali kupusatkan pada pencarian anak-anakku. Beberapa pasang lingkaran berkilau di ujung lorong memancingku untuk berlari ke arahnya, berharap itu kilauan mata anak-anakku. Tapi bukan.
Rasanya semakin larut aku semakin sulit bernafas. Rambut-rambutku juga mulai rontok dengan sendirinya.Telingaku terus berdengung. Semoga aku tidak tuli. Tapi di sela gemuruh dan dengungan yang memenuhi telingaku, suara rintihan bocah terselip.
***
Bocah ini berjalan mengiringi langkah kakiku. Bocah ini sering tersandung karena gelap dna hampir menindihku. Aku benci itu. Ah, aku terlalu berlebihan. Bocah ini cerewet sekali, dari ceritanya aku tau bahwa bocah ini bernama Ian. Aku dan ian berjalan menjauhi gunung Merapi yang semakin marah.
Aku berhenti memanggil anak ini dengan sebutan ‘bocah’. Dia tidak seburuk yang aku ceritakan. Sekarang sudah subuh. Kami melakuki perjalanan yang cukup panjang semalam. Aku sempat berada digendongannya yang hangat. Mengingatkanku pada majikanku.
Aku menjilat beberapa bagian tubuhku, menunggu Ian yang sedang menjalankan ibadah sholat subuh. Kami menemukan surau yang hampir runtuh, namun masih layak. Aku kagum sekaligus kasihan pada anak ini. Bagaimana tidak, ia hanya anak berumur sepuluh tahun yang menyelamatkan diri dari bencana dan harus kehilangan keluarganya.
“Pus....” Aku mendongak untuh melihatnya yang berdiri di hadapanku. Tampan, tapi matanya cekung. Andai saja aku bisa menyuruhnya tidur dan beristirahat. Tapi yang keluara hanya eaonganku.
***
Aku merindukannya. Sudah satu minggu rupanya. Ya, satu minggu lalu Ian bertemu ibunya. Aku mengikuti mereka selama beberapa jam dan terpisah. Hariku benar-benar sepi. Aku lelah. Aku sudah menyerah dalam pencarian anak-anakku.
Belaian angin membuat rambutku yang pendek ini bergoyang seperti rumput yang aku lihat dihadapanku. Cukup lama aku melamun memangdang ------- eh, sepertinya mataku menangkap dua sosok sepertiku. Mirip. Dua sosok itu menggeliat di dekat kaki seorang bocah yang berjongkok membelakangiku.
***
Majikanku sudah meninggal dan jenazahnya ditemukan di temukan bersama anak-anakku. Bayi-bayi kecil yang menggeliat dalam kotak yang dibbawanya.Aku mendengar hal ini dari Ian, seorang anak kecil yang bermain dengan anak-anakku tempo hari. Anak-anakku sudah bersamaku. Begitu juga dengan Ian yang terpisah dengan ibunya.
Pagi ini Ian duduk beralaskan rumput dengan kristal beningnya. Kulihat matanya pun demikian, meneteskan kristal bening yang terkena pancaran cahaya matahari pagi. Aku duduk di sampingnya, merasakan rasa kehilangannya.
***
“Adik kenapa menangis?” tanya semorang wartawan muda sebuah surat kabar. Dapat ku ketahui dari tanda pengenal yang ia kenakan.
Ian diam saja. Dan beberapa detik berikutnya wartawan muda itu melanjutkan, “ah, atau kakak perlihatkan gambar-gambar pemandangan saja? Indah sekali dik. Sebentar ya....”
Ian  hanya mengangguk. Wartawan muda itu dengan cekatan membuka gambar-gambar koleksinya. Aku ikut menngintip dan terlonjak kaget saat Ian meneriakkan mamanya. Kontan saja wartawan muda itu ikut terkejut. Ian terus menangis dan wartawan muda itu menenangkan Ian.
“Mama, kak... Itu baju yang mama pakai,” raung Ian sambil menunjuk laptop wartawan muda itu.
Seperti tersambar petir, wartawan itu sadar dan menekan tombol untuk melihat foto yang kami lihat sebelumnya. Aha! Aku tau sekarang. Foto wanita paruh baya yang tergeletak itu adalah ibu Ian. Sudah terbujur kaku. Wajahnya tak dapat dikenali. Baju yang di kenakan sebagian besar tertutup abu, namun masih nampak cukup jelas.
***
Aku mengisi hari-hari yang Ian lalui di pengungsian. Kami terurus di sini. Dan kini anak-anakku sudah cukup besar. Ian menjadi majikan yang baik bagiku dan anak-anakku. Andai aku bisa mengasuhnya, menjadi ibunya. Tapi aku hanya seekor kucing yang luluh hatinya karena manusia. Semua anak dan cucuku, serta keturunanku akan menemani Ian melanjutkan perjalanannya, aku berjanji. Aku mulai dengan menitipkan anak-anakku pada Ian dan aku yakin mereka akan bersama. Karena mungkin aku akan pergi besok.

Malam Tertatih

Suara derap langkah orang yang membuka pintu membuatku terbangun. Cahaya temaran lampu lima watt teras menerangi sosok tersebut. Membantu mataku untuk lebih jelas melihatnya. Sudah ku duga, itu adalah sosok majikanku. Aku beranjak, menggeliat, dan mengendus kakinya. Membuatnya berjongkok dan menggendongku sebelum akhirnya masuk. Kami hanya berdua di sini. Di rumah kontrakan kecil yang hanya punya satu kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur. Halaman belakang merupakan tempat kesukaanku. Tempatku mengejar capung dan kadang memakan rumput. Rumput di pagi hari selalu membuatku bersin karena kristalnya yang bening.
Malam ini aku tidur di dalam rumah. Biasanya aku lebih memilih mencari tikus di gorong-gorong. Malam yang dingin ini membuatku memilih meringkuk di kaki majikanku. Denyut nadinya yang berirama dengan detak jantungku membuatku nyaman.
Sial, cicitan tikus itu mengganggu tidurku. Merangsang cacing di perutku untuk bernyanyi. Aku menggeliat dan melompat turun. Ku endus salah satu tangan majikanku yang jatuh dari tempat tidur. Lengannya yang terkulai mulai banyak bekas sayatan. Dari yang kecil, kira-kira dua cm, hingga yang hampir melingkari lengannya. Apakah itu aib bagi manusia? Sehingga majikanku selalu memakai baju berlengan  panjang.
Sudahlah, tikus buruanku sudah terdengar menjauh. Aku berlari kesana kemari dan hanya mendapat kelelahan. Ruangan ini gelap karena lampu yang telah padam. Namun tetap saja aku bisa melihat dengan jelas.
Beruntung sekali aku diciptakan sebagai kucing, bukan tikus yang hanya akan dikejar-kejar kucing atau manusia yang suka menyayat kulitnya.
Majikanku berubah sejak pria yang hendak ku putuskan urat kakinya itu datang kerumah.  Mereka tampak sangat jelas merahasiakan sesuatu. Bagaimana tidak, pria itu menyuruh majikan untuk mengeluarkanku dan mengunci rumah, seolah aku akan berlari ke alun-alun kota dan berteriak membeberkan pembicaraan mereka. Yang benar saja, aku hanya seekor kucing. Hal itu membuat tersinggung. Aku memang kucing kampung, tapi aku punya harga diri dan kewajiban melindungi majikanku.
Majikanku sering mengupat sambil menelan beberapa pil. Pil yang diberikan pria tidak ramah pada malam itu  mungkinkah pria itu dokter? Sepertinya tidak.
Sudah 2 hari ini majikan mengacuhkanku dan tidak  memberiku makan. Mungkin sedang banyak tugas di sekolahnya. Repotnya menjadi manusia yang harus belajar setiap hari. Atau mungkin uangnya sudah habis. Yah, namanya saja anak rantau. Tidak bisa mengatur pengeluaran, salah-salah malah kehabisan uang. Tapi aku maklum saja. Asalkan aku masih bisa merasakan denyut nadi di kakinya yang berirama dan tidur dekat tubuhnya yang hangat.
Sore ini hujan lebat. Aku sedang mengamati air hujan yang menusuk, merembes ke dalam tanah. Apakah akan merasakan sakit bila menjadi tanah yang dihujam jutaan tetes air hujan?
Majikanku sedang tidur di sofa. Sebenarnya sofa kami hanya berupa kursi panjang dari kayu dan dilapisi tumpukan kain oleh majikanku.
Tetes air hujan menghipnotisku hingga tak sadarkan diri. Aku terbangun saat mendengar teriakan dari dalam rumah. Suara teriakannya aneh. Tak lain dan tak bukan adalah majikanku. Aku buru-buru berlari masuk tanpa sempat menggeliat seperti ritual bangun tidurku biasanya. Kudapati majikanku berjongkok di atas sofa sambil memegang sapu. Lagaknya seperti pemancing hebat. Begitu aku mencoba mendekat, ia berteriak melarangku untuk mendekat. Dan kau tahu alasannya? Sangat konyol. Yang ada dipikirannya, lantai tempatku berpijak merupakan lautan. Dan ia adalah pemancingnya. Memancing ikan hiu. Sebenarnya ada apa dengan manusia ini?
Malam ini majikanku pulang membawa ikan bandeng segar untukku. Aku nebghabiskan kepalanya dan menyimpan sisanya untuk nanti. Rupanya majikanku sudah punya rezeki. Setelah kenyang dan selesai menjilati beberapa bagian tubuhku, aku memanjat sofa  dan merapat ke kaki majikanku yang sudah tidur sejak pulang tadi. Meringkuk di kakinya selalu membuatku nyaman. Baru beberapa detik ku sandarkan kepalaku pada kakinya, rasa hangat itu kian hilang. Ku dengarkan dengan seksama denyut di kakinya. Samar sekali. Bahkan sebenarnya hanya detak jantungku yang terdengan. Tidak ada irama. Yang ada hanya dingin yang mencekam.
   

HIJRAH

Suara alunan lagu dari radio membuat batinku terasa nyaman sekali. Aku berbaring didekat kakinya, di keset empuk kotak-kotak merah biru kesayanganku. Aku berbaring dalam kehangatan, sambil mengenang malam-malam yang sudah aku lewati. Malam-malam di bawah bentangan langit berselimutkan bintang-bintang. Malam-malam yang dingin ditemani bulan dan malam-malam saat aku belum menemukan Faisal. Saat aku belum setua ini.
Sekian malam yang kuhabiskan untuk mencari Faisal. Suara-suara indah dari radio terus berganti, aku bangun perlahan-lahan, menarik kedua kaki depanku dan menggeliat. Lalu kembali kurebahkan diri di keset. Faisal tersenyum sayang padaku dari kursinya.
Bagi kucing tua sepertiku, kehangatan sangatlah penting. Mungkin begitu juga bagi kucing-kucing lain. Tapi entahlah, sebab tidak semua kucing berpendapat sama. Dan yang jelas, tidak semua kucing memiliki pengalaman yang sama. Aku sudah mengenal banyak kucing. Aku pernah mengenal kucing yang hidupnya serba berkecukupan, selalu makan makanan enak, tiduk di tempat tidur empuk dan pergi ke salon. Aku juga pernah mengenal kucing yang sinar matanya redup, pandangan sayunya menggambarkan sebuah kerinduan pada kehangatan di dalam rumah. Aku pernah juga kenal kucing-kucing yang diperlakukan kejam oleh manusia, kucing-kucing yang mencuri ikan. Dan kucing-kucing yang mengais tempat sampah. Aku pernah mengenal kucing-kucing itu, dan aku pernah mengalami semua yang mereka alami.
***
Malam ini hujan. Udara dingin menggigit. Selama berminggu-minggu seekor kucing bisa melihat uap embusan nafasnya sepanjang malam, bahkan sepanjang siang. Kebun-kebun basah. Air tergenang di mana-mana dan nampak kelabu. Dengkungan katak terdengar di penjuru tempat. Suaranya masih terngiang-ngiang di kepalaku sepanjang hari. Andai saja ini musim kemarau, pasti keadaannya tidak seperti ini. Udara dipenuhi suara-suara dengung serangga, kura-kura berjemur di bawah panas matahari, ikan-ikan berenang diantara tumbuhan air. Kulitnya mengilap diterpa cahaya matahari. Dan malamnya aku bisa menggeliat untuk merenggangkan tubuhku. Malam musim dingin ini lain. Aku hanya bisa meringkuk kedinginan, memeluk kaki belakangku dengan kaki depanku, sambil mendengar tetesan air hujan di emperan toko yang sepertinya sudah bangkrut ini.
Ribuan tetes air dari langit ini menghambatku untuk mencari keluarga majikanku yang hilang. Aku masih mencari rumah baru mereka. Bodoh sekali aku keluar dari mobil saat mereka mengisi bahan bakar. Mereka tidak mengetahui kejadian yang terjadi padaku ini. Alhasil aku kehilangan mereka. Untunglah aku pernah diajak ke rumah baru yang hendak mereka tempati. Memang saat itu pembangunan rumah belum selesai. Baru jadi setengahnya. Mereka hanya mengunjungi.
Aku berada di gendongan anak perempuan keluarga ini. Kulongokkan kepalaku ke jendela melihat jalan sepanjang perjalanan. Cukup jauh. Atau bisa disebut jauh sekali bagiku. Satu jam lebih perjalanan kami. Mungkin sekitar enampuluh kilometer. Aku tidak pintar berhitung dan mengira-ingira. Tapi untunglah aku pintar mengingat rute jalan. Lantas bagaimana jika enampuluh kilometer dan ditempuh dengan cepat? Sepertinya aku ragu.
Ada empat orang dalam keluarga majikanku. Aku tahu anak-anak manusia biasanya sekali lahir tidak banyak seperti anak kucing, melainkan hanya satu atau dua seperti anak kerbau. Kedua orangtua dalam keluarga majikanku ini mempunyai dua anak. Si sulung laki-laki, sedangkan adiknya perempuan. Lambat laun aku jadi tahu nama keduanya. Aku paling dekat dengan yang perempuan, walaupun sering kesal dengan suaranya yang amat berisik. Aku juga baru mengenalnya setelah usiaku beberapa bulan.
Sebenarnya bisa saja aku mencari majikan baru atau tinggal menjadi kucing liar. Namun aku menyayangi keluarga ini. Saudaraku pun ikut serta dengan mereka. Aku merindukannya. Merindukan keluarga majikanku dan saudaraku.
Aku dilahirkan bersama tiga saudaraku yang lain. Dua diantara mereka mati dimakan kucing jantan liar yang berkeliaran di sekitar rumah kami. Sedang ibuku, ia mati tertabrak mobil.
Ah, hujan masih saja menyelimuti bumi. Aku sudah sangat lelah. Seperti yang kubilang tadi, musim hujan nan dingin begini suara dengkungan katak terdengar dimana-dimana, sebagai melodi pengantar tidurku. Aku menggeliat dan kurebahkan kembali badanku. Ku dengarkan suara tetesan air hujan yang menusuk kedalam tanah, menghipnotisku untuk terlelap.
***
Aku memandang penuh kerinduan pada jendela kaca yang berembun, bekas hujan yang baru saja reda. Terdapat wanita paruh baya yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Semburat sinar senja sudah menghilang beberapa jam yang lalu. Hari sudah gelap. Ku dekati rumah itu,  berharap seseorang membukakan pintu dan mempersilakanku masuk. Aku melamun. Suara derit pintu di depanku membuyarkan lamunanku. Anak laki-laki yang melihatku langsung saja mengangkat tubuhku, membawaku masuk dan kembali menutup pintu. Rumah ini memberikanku kehangatan. Wanita paruh baya yang tadi ku lihat menyambut kedatanganku. Ku balas sapaannya dengan eongan lembutku. Aku ditidurkan di dapur. Kehangatan di tengah lelahku membuat aku tertidur.
Sekitar tengah malam aku terbangun. Ku edarkan pandanganku dalam gelap ruangan ini dan menangkap benda bulat yang berkilau dan melayang. Nafasku tercekat di kerongkongan. Benda bulat berkilau dan melayang itu menghampiriku. Aku berjalan mundur perlahan. Tiba-tiba saja pemilik benda itu menerkamku. Ternyata sepasang mata milik seekor anjing yang besar. Aku meraung-raung, berusaha mencakar wajahnya. Aku terlalu kecil untuk anjing herder seperti dia. Rasanya perutku sudah terkoyak. Untung hanya perasaanku saja. Dan yang lebih untung aku ditendang keluar dari rumah ini.
Saat kejadian itu, saat anjing yang menyebalkan itu berhasil menggigit kaki depanku hingga pincang, lampu-lampu di dapur menyala. Pintu dibuka, dan di sinilah aku sekarang berada Mengkais-kais tong sampah di ujung gang. Belum aku dapat secuilpun makanan, aku sudah kembali diterkam. Kali ini oleh kucing-kucing liar penguasa daerah ini. Aku berlari dan terus berlari dengan kaki pincang hingga bayangan di depanku membuatku menghentikan langkah. Ku dapati sosok wanita tua. Aku hanya pasrah ketika tubuhku diangkatnya. Ku endus aroma tubuhnya. Auranya juga menyenangkan. Sepertinya aku akan betah jika wanita ini mengadopsiku dan mengajakku tingal bersamanya.
***
Aku mempunyai beberapa teman baru, dan semuanya ramah kepadaku. Kakiku masih pincang setelah beberapa hari berlalu sejak anjing herder itu menggigitku. Kebahagiaan akan keluarga membuatku terlena dan melupakan tujuan awalku untuk mencari majikanku yang lama.
Wanita tua yang mengadopsiku ku ketahui bernama Heni. Sepanjang hidupnya entah apa saja yang ia lakukan untuk menghabiskannya. Ia tidak pernah mengucap janji suci pernikahan. Mungking kesepian yang menghantui hidupnya ia alihkan dengan merawat kucing-kucing sepertiku. Entahlah.
***
Ambulance melaju kencang di jalanan. Melanggar beberapa lampu lalu lintas yang masih melotot dengan warna merah. Kendaraan lain mengalah untuk memberi jalan. Aku dan beberapa ekor kucing peliharaan Bu Heni menemaninya dalam perjalanan ke rumah sakit bersama asistennya. Perawat menyebut-nyebut bahwa bu Heni terkena serangan jantung.
Asistennya menggendongku dan mondar-mandir di depan ruang UGD. Dokter yang keluar ruangan mengabarkan berita duka, kematian Bu Heni yang membuat asisten mudanya ini menangis hingga matanya sembab. Kebahagiaanku yang baru ku kecap sudah hilang dengan sekejap.
Aku turun dari gendongannya dan berjalan menjauh. Mungkin aku tak bisa tinggal di rumah Bu Heni lagi. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Masih di sekitar UGD. Aku hampir ditabrak tempat tidur dorong yang keluar dari UGD. Yang di atasnya tertutup rapat oleh kain putih. Kain yang bersih namun berlumuran darah hampir di mana-mana. Dikelilingi oleh orang-orang yang menangis. Aku tertegun melihatnya. Ku lihat Faisal—anak majikan lamaku yang sulung—memanggilku. Tubuhku diangkat dan dipeluk olehnya. Lalu aku di letakkan di tempat tidur dorong yang tadi hampir menabrakku. Faisal membuka kainnya dan kudapati wajah Kiki sudah pucat pasi berlumuran darah yang mulai mengering.

Thursday, June 16, 2011

MAKNA PEMBUKAAN UUD NRI 1945

   Makna setiap alinea dalam pembukaan
a.    Alinea Pertama
1)    Keteguhan bangsa Indonesia dalam membela kebenaran melawan penjajah dalam segala bentuk.
2)    Pernyataan subyektif bangsa Indonesia untuk menentang dan menghapus  penjajahan diatas dunia.
3)    Pernyataan obyektif bangsa Indonesia hahwa penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
4)    Pemerintah Indonesia mendukung kemerdekaan bagi setiap bangsa untuk berdiri sendiri.
b.    Alinea Kedua.
1)    Kemerdekaan yang dicapai oleh bangsa Indonesia adalah melalui perjuangan pergerakan dalam melawan penjajah.
2)    Adanya momentum yang harus dimanfaatkan untuk menyatakan kemerdekaan.
3)    Bahwa kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan, tetapi harus diisi dengan mewujudkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
c.    Alinea Ketiga 
1)    Motivasi spiritual yang luhur bahwa kemerdekaan kita adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
2)    Keinginan yang didambakan oleh segenap bangsa Indonesia terhadap suatu kehidupan yang berkesinambungan antara kehidupan material dan spiritual, dan kehidupan di dunia dan akherat.
3)    Pengukuhan pernyataan Proklamasi Kemerdekaan.

d.    Alinea Keempat.
1)    Adanya fungsi dan sekaligus tujuan negara Indonesia, yaitu :
a)    Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
b)    Memajukan kesejahteraan umum.
c)    Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
d)    Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
2)    Kemerdekaan kebangsaan Indonesia yang disusun dalam suatu Undang – Undang dasar.
3)    Susunan/bentuk negara Republik Indonesia.
4)    Sistem pemerintahan negara, yaitu berdasarkan kedaulatan rakyat (demokrasi).
5)    Dasar negara Pancasila.

INDERA PENGECAP

Indera pengecap

    Indera pengecap adalah lidah
    lidah merupakan salah satu bagian otot dalam tubuh kita yang mudah bergerak yang mana dilapisi epitelium dan reseptor pengecap.
    Fungsi lidah :
o    Sebagai indera pengecap
o    Alat bantu untuk mengunyah makanan dan menggerakkannya ke seluruh rongga  mulut.
o    Alat bantu untuk membersihkan sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi.
o    Membentuk suara pada waktu berbicara.
    Lidah berakar di rahang bawah, pada otot-otot geniohoid dan milohoid, dan pada tulang hioid di bagian atas leher.
    Reseptor pengecap pada lidah berupa kuncup pengecap yang terletak dalam papila lidah.
    Kuncup pengecap terdiri atas sekelompok sel sensoris yang mempunyai tonjolan seperti rambut dan mampu mendeteksi molekul-molekul kimia (kemoreseptor).
    Masing-masing kuncup pengecap hanya dapat mendeteksi 1 rasa yang berbeda, yakni :
o    bagian tepi depan untuk rasa manis
o    bagian tepi samping untuk rasa asam
o    bagian belakang untuk rasa pahit
o    bagian depan untuk rasa asin
    Macam -macam papila lidah :
o    papila filiformis : papila berbentuk benang yang tersebar di seluruh permukaan lidah, merupakan papila peraba.
o    papila fungiformis : papila yang berbentuk seperti jamur dan terletak di ujung dan tepi lidah berfungsi sebagai papila pengecap
o    papila sirkumvalata : papila yang berbentuk huruf v dan terletak di pangkal lidah.