Sistem informasi merupakan hal yang penting bagi perstatistikan nasional karena dengan adanya informasi yang lengkap dan akurat maka mutu data yang akan di berikan BPS kepada masyarakat akan lebih cepat sehingga upddate data semakin cepat.Jika dikaji dari aspek pemanfaatan, karakteristik, dan sifat pertukarannya, informasi secara garis besar dipilah dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah informasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi utama setiap organisasi; informasi tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pembangunan termasuk dalam kelompok ini. Kelompok kedua adalah informasi yang berkaitan dengan sumber daya pendukung bagi terselenggaranya tugas pokok dan fungsi utama setiap organisasi; informasi tentang keuangan, kepegawaian, perlengkapan/inventaris, peraturan, pengelolaan dokumen, dan kegiatan perkantoran, termasuk dalam kelompok ini. Kelompok ketiga adalah informasi yang berkaitan dengan pelayanan dan jasa serta penerangan bagi masyarakat yang bersifat umum, bebas, dan terbuka, yang berkenaan dengan berbagai kegiatan kehidupan; informasi tentang cuaca, jadwal perjalanan kereta api, investasi, industri dan teknologi, tenaga kerja, transportasi, perdagangan, dan masalah umum lainnya termasuk dalam kelompok ini. Dampak positif dari pengembangan sistem informasi yang telah dilaksanakan selama ini, antara lain tersedianya data dan informasi yang lebih akurat, lebih lengkap, dapat dipertanggungjawabkan, dan lebih mudah diakses; adanya perbaikan dalam pengelolaan administra- si; meningkatnya kecepatan proses, efisiensi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi; meningkatnya komunikasi internal dan eksternal; serta meningkatnya produktivitas dan kemampuan sumberdaya manusia di bidang sistem informasi.Di bidang statistik, sasaran pembangunan statistik adalah berkem- bangnya sistem perstatistikan nasional yang makin terpadu dan andal, yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas pembangunan secara sektoral, lintas sektor, nasional, dan regional. Dengan demi- kian, diharapkan proses pengambilan keputusan yang dilakukan di semua kegiatan, baik oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta, dapat menggunakan data statistik yang akurat dan tepat-waktu. Sampai tahun ketiga Repelita VI, usaha pencapaian sasaran ini dilakukan melalui pelaksanaan program penyempurnaan dan pengembangan statistik, program pengembangan informasi statistik, serta program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan statistik. Dalam tahun 1996/97 program penyempurnaan dan pengem- bangan statistik, sebagai program pokok, dilakukan melalui kegiatan: pengumpulan dan pengolahan data statistik bidang pertanian, industri, distribusi, sosial kependudukan, dan neraca nasional; pengkajian dan analisis statistik; penyempurnaan teknik statistik; pengembangan sistem pengolahan dan penyajian; pengembangan tata-cara kerja dari kegiatan statistik, termasuk teknik pengumpulan data, cakupan data dan pembagian kerja antar instansi; pengembangan kelembagaan statis- tik di daerah, baik tingkat propinsi, kabupaten/kotamadya maupun kecamatan; serta penyempurnaan sarana dan prasarana yang mampu meningkatkan mutu, kelengkapan, dan kecepatan penyajian data statistik. Kegiatan penyempurnaan kelembagaan statistik pada tahun 1996/97 diarahkan untuk mendukung pengembangan dan pelaksanaan kegiatan statistik. Salah satu kemajuan penting dalam bidang perstatistikan adalah diundangkannya UU No. 16 Tahun 1997 Tentang Statistik pada bulan Mei 1997. UU ini menggantikan UU No. 6 tahun 1960 tentang Sensus dan UU No. 7 tentang Statistik tahun 1960. Dengan demikian diharapkan pembangunan bidang statistik, termasuk pengaturan kelembagaan statistik, dapat lebih berhasil-guna dan berdaya-guna di masa-masa mendatang.Pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang informasi dan statistik mendapat perhatian yang besar. Hal ini dilakukan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan pada berbagai instansi, maupun pendidikan formal di bidang teknologi informasi di pusat dan daerah. Jumlah mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta yang membuka program pendidikan bidang informatika/ komputer semakin meningkat untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional di bidang teknologi informasi.
Tuesday, November 6, 2012
JENIS SENSUS DAN SURVEY
Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintahan Non-Departemen yang bertanggung jawab kepada Presiden. Berdasarkan undang undang UU Nomor 16 tahun 1997, peranan yang harus dilakukan Badan Pusat Statistik sebagai lembaga pencacahan yang independent memiliki dua program setiap tahunnya yaitu survey dan dalam jangka waktu beberapa tahun sekali akan dilakukan sensus.
Sensus adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pemcacaham semua unit populasi di seluruh wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik suatu populasi pada saat tertentu dan dalam waktu tertentu. Sensus dilakukan dalam suatu ruang lingkup yang besar sehingga memerlukan waktu yang lebih lama dan tenggang satu sensus ke sensus yang lain pun lama dan memerlukan biaya yang lebih besar karena data ini sangat akurat dan dapat di pertanggung jawabkan.
Didalam BPS terdapat banyak jenis sensus, diantaranya :
1. Sensus Penduduk
Sensus penduduk adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan seluruh penduduk yang bertempat tinggal atau berada di wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik penduduk pada saat tertentu. Sensus penduduk dilakukan pada tahun yang berakhiran 0, Pencacahan dalam sensus penduduk dilaksanakan untuk mengumpulkan karakteristik pokok dan rinci terhadap seluruh penduduk.Karakteristik pokok dan rinci sebagaimana dimaksud dalam ayat mencakup karakteristik tentang penduduk, perumahan dan lingkungannya, dan karakteristik lain yang termasuk dalam lingkup statistik dasar bidang kependudukan. Sensus penduduk ini penting bagi Indonesia karena dapat menentukan kebijakan yang dilakukan oleh istana agar masalah kependudukan tidak menjadi buruk dan dapat ditangani secara optimal dan efisien. Selain untuk melihat dan merancang bagaimana pemerintah menyiapkan solusi buat permasalahan kependudukan yang akan dihadapi oleh pemerintahan Indonesia mendatang juga untuk melihat bagaimana pertumbuhan penduduk yang akan terjadi di masa datang dan cara mencegah pertumbuhan tersebut. Sensus penduduk juga bisa melihat margin antara laki laki dan perempuan sehingga dapat mengetahui perkiraan perkembangan di masa depan
2. Sensus Pertanian
Sensus pertanian adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan seluruh petani, rumah tangga pertanian, dan perusahaan pertanian di wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik pertanian pada saat tertentu. Sensus pertanian di lakukan di tahun yang berakhiran 3 dan akan di lakukan tahun depan. Sensus Pertanian sangat di perlukan mengingat negara Indonesia adalah negara agraris dan perlu mengembangkan dengan pesat pertanian di Indonesia. Sekarang ini Indonesia sangat membutuhkan rencana untuk mengembangkan perekonomian yang saat ini banyak melakukan impor pangan, hal ini sangat ironis melihat betapa luas lahan yang dimiliki oleh Indonesia akan tetapi belum di optimalkan dan masih menjadi lahan kosong yang tak produktif. Dengan di laksanakanya sensus pertanian ini diharapkan pemerintah mampu meluhat dan menyusun rencana bagaimana mengoptimalkan lahan agar Indonesia tak lagi mengimpor bahan pangan dari luar negeri, selain bisa menguntungkan dan mengurangi beban APBN yang membengkak karena beban impor pangan yang terlalu berlebihan. Petani dan masyarakat bagaimana caranya agar melirik lagi agribisnis, selain itu kesejahteraan petani pun akan bisa terangkat karena data BPS akan membantu jika di analisis dan dicari solusinya dengan benar. Dengan sensus pertanian di harapkan mampu mengangkat ekonomi dan terus memanfaatkan lahan yang ada.
3. Sensus Ekonomi
Sensus ekonomi adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan seluruh usaha dan atau perusahaan non pertanian di wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik usaha dan atau perusahaan pada saat tertentu. Sensus ini di lakukan dengan tahun yang berakhiran angka 6. Sensus ekonomi mencacah ekonomi di indonesia selain pertanian. Ekonomi di indonesia sekarang ini mengalami tren naik yang lumayan baik dan mampu mengangkat derajat bangsa indonesia di kancah internasional. Akan tetapi menurut data BPS angka itu masih jauh dari ynag di harapkan karena perkiraan BPS lebih besar dari pada itu dan masih akan terus berjalan naik jika tak ada suatu hal yang membuat grafik tersebut jatuh. Sensus ekonomi ini sangat penting dalam merancang APBN sepuluh tahun kedepan. Ekonomi di indonesia umumnya belum di manfaatkan secra optimal. Dan perhatioan dari [pemerintah di pusat sangat kurang sehingga tak tahu bagaimana harus bertindak dan takut untuk gagal. Di sini sensus ekonomi sangat lah penting untuk mengkaji dan menganalisis ulang bagaimana pemerintah herus bertindak. Badan Pusat Statistik sangat mengharapkan pemerintah tanggap dan menanggapi data yang diberikan dan dianalisis dengan benar dan tak salah melakukan kebijakan yang tak berpihak untuk rakyat. Walaupun begitu sensus ekonomi ini tak akan membantu jika di biarkan menjadi data kosong yang tak ditanggapi dengan benar oleh pemerintah. Sensus ekonom mencatat berbagai kegiatan dan keadaan ekonomi di seluruh wilayah indonesia, jadi Badan Pusat Statistik mengetahui bagaimana keadaan indonesia yang sebenarnya, kesenjangan ekonomi pun sangat terlihat.
4. Sensus Ternak Sapi
Sensus sapi adalah pengumpulan data keberadaan dan jumlah sapi dan kerbau di seluruh wilayah Republik Indonesia. Sensus ini merupakan rangkaian dari sensus pertanian namun dilakukan di waktu yang berbeda sensus Ternak ini mencacah ternak sapi dan ternak kerbau yang ada di indonesia. Mencatat bagaimana dari berat dan jenis sapi dan kerbau di indonesia. Survey mencatat bahwa indonesia sapi nya kulaitas menengah kebawahkarena kesalahan pemeliharaan sapi yang sama sekali tak efektif dan tak ada penyuluhan dari pemerintah pusat. Sensus Ternak Sapi ini sangat penting untuk melihat bagaimana ternak ternak ini dan keadaan sebenarnya. Seperti data yang lain, data itu bisa di olah dan nanti akan bertemu solusi yang lebih baik dari sebelumnya, sensus ternak ini jangan di sepelekan karena kebutuhan daging di indonesia banyak dan pengusaha ternak sapi pun masih terus berfikir ulang untuk menggeluti usaha ini. Dengan sensus ternak diharapkan mampu memberi gambaran yang jealas tentang ternak sapi maupun kerbau
5. Sensus Industri Penggilingan Padi
Sensus Industri Penggilingan Padi adalah pengumpulan data keberadaan, penyebaran, aktivitas dan karakteristik kegiatan penggilingan padi di wilsyah Republik Indonesia dalam waktu tertentu.
Survey adalah kegiatan pengambilan data yang di lakukan secara sampling untuk melihat secara khusus suatu pendataan untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi pada saat tertentu. Survey biasanya adalah turunan dari sensus sensus pokok yang di lakukan oleh BPS dan biasnya survey dilakuakan agar bisa mengontrol perkembangan dari tahun ke tahun.
Beberapa contoh survey yang di laksanakan bps
1. Sarkenas
Sarkenas atau survey angkatan kerja adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui sampling untuk melihat berapa banyak jumlah angkatan kerja yang terdapat di Indonesia dan menghitung angkatan kerja yang masih produktif dan yang tidak produktif dalam jangka waktu tertentu. Dnegan dilakuklan sampling walau tak terlalu valid akan tetapi sudah mampu mewakili keadaan yang sebenarnya, sarkenas ini sangat penting di lakuakn karena bisa melihat berapa banyak angkatan kerja aktif maupun tak aktif yang ada di indonesia dan terus menerus mensosialisasikan angkatan kerja ini bisa menjadi angkatan kerja yang produktif, dengan SDM yang membaik di yakini bahwa kompetisi mencari pekerjaan pun semakin berat dari sebelumnya. Disinilah tugas pemerintah menganalisis data yang di beriakan oleh BPS agar dapat menemukan solusi yang bagus.
2. Susenas
Susenas atau survey sosial ekonomi nasional adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui sampling untuk mencari data berapa tingkat status seseorang di masyarakat dan status ekonomi di tingkat nasional.
3. Survey penduduk antar sensus
Survey penduduk antar sensus adalah pengumpulan data secara sampling untuk menghitung jumlah penduduk di Indonesia, survey ini mirip sensus penduduk dan di laksanakan di tengah tengah waktu rentan sensus penduduk yaitu pada tahun yang berakhiran lima. Survey ini mirip sensus kependudukan yang dilakukan setiap tahun yang berakhiran 0, fungsinya pun sama tak jauh beda, mungkin ketepatan saja lah yang membedakan keduanya. Sensus penduduk lebih tepat dari pada survey penduduk antar sensus. Walaupun begitu survey ini penting karena untuk melihat secara abstrak pertumbuhan penduduk di Indonesia bisa melihat dan menganalisis di data ini, dengan survey ini diharapkan mampu menghadirkan dan memberi penjelasan dan rencana selanjutnya untuk memilih kebijakan mengenai masalah kependudukan
4. Survey harga konsumen
Survey harga konsumen adalah pengumpulan sampling yang dilakukan untuk menghitung tingkat konsumeris di Indonesia dan perbandingannya di lakukan pada waktu tertentu.
Sensus adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pemcacaham semua unit populasi di seluruh wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik suatu populasi pada saat tertentu dan dalam waktu tertentu. Sensus dilakukan dalam suatu ruang lingkup yang besar sehingga memerlukan waktu yang lebih lama dan tenggang satu sensus ke sensus yang lain pun lama dan memerlukan biaya yang lebih besar karena data ini sangat akurat dan dapat di pertanggung jawabkan.
Didalam BPS terdapat banyak jenis sensus, diantaranya :
1. Sensus Penduduk
Sensus penduduk adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan seluruh penduduk yang bertempat tinggal atau berada di wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik penduduk pada saat tertentu. Sensus penduduk dilakukan pada tahun yang berakhiran 0, Pencacahan dalam sensus penduduk dilaksanakan untuk mengumpulkan karakteristik pokok dan rinci terhadap seluruh penduduk.Karakteristik pokok dan rinci sebagaimana dimaksud dalam ayat mencakup karakteristik tentang penduduk, perumahan dan lingkungannya, dan karakteristik lain yang termasuk dalam lingkup statistik dasar bidang kependudukan. Sensus penduduk ini penting bagi Indonesia karena dapat menentukan kebijakan yang dilakukan oleh istana agar masalah kependudukan tidak menjadi buruk dan dapat ditangani secara optimal dan efisien. Selain untuk melihat dan merancang bagaimana pemerintah menyiapkan solusi buat permasalahan kependudukan yang akan dihadapi oleh pemerintahan Indonesia mendatang juga untuk melihat bagaimana pertumbuhan penduduk yang akan terjadi di masa datang dan cara mencegah pertumbuhan tersebut. Sensus penduduk juga bisa melihat margin antara laki laki dan perempuan sehingga dapat mengetahui perkiraan perkembangan di masa depan
2. Sensus Pertanian
Sensus pertanian adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan seluruh petani, rumah tangga pertanian, dan perusahaan pertanian di wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik pertanian pada saat tertentu. Sensus pertanian di lakukan di tahun yang berakhiran 3 dan akan di lakukan tahun depan. Sensus Pertanian sangat di perlukan mengingat negara Indonesia adalah negara agraris dan perlu mengembangkan dengan pesat pertanian di Indonesia. Sekarang ini Indonesia sangat membutuhkan rencana untuk mengembangkan perekonomian yang saat ini banyak melakukan impor pangan, hal ini sangat ironis melihat betapa luas lahan yang dimiliki oleh Indonesia akan tetapi belum di optimalkan dan masih menjadi lahan kosong yang tak produktif. Dengan di laksanakanya sensus pertanian ini diharapkan pemerintah mampu meluhat dan menyusun rencana bagaimana mengoptimalkan lahan agar Indonesia tak lagi mengimpor bahan pangan dari luar negeri, selain bisa menguntungkan dan mengurangi beban APBN yang membengkak karena beban impor pangan yang terlalu berlebihan. Petani dan masyarakat bagaimana caranya agar melirik lagi agribisnis, selain itu kesejahteraan petani pun akan bisa terangkat karena data BPS akan membantu jika di analisis dan dicari solusinya dengan benar. Dengan sensus pertanian di harapkan mampu mengangkat ekonomi dan terus memanfaatkan lahan yang ada.
3. Sensus Ekonomi
Sensus ekonomi adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan seluruh usaha dan atau perusahaan non pertanian di wilayah Republik Indonesia untuk memperoleh karakteristik usaha dan atau perusahaan pada saat tertentu. Sensus ini di lakukan dengan tahun yang berakhiran angka 6. Sensus ekonomi mencacah ekonomi di indonesia selain pertanian. Ekonomi di indonesia sekarang ini mengalami tren naik yang lumayan baik dan mampu mengangkat derajat bangsa indonesia di kancah internasional. Akan tetapi menurut data BPS angka itu masih jauh dari ynag di harapkan karena perkiraan BPS lebih besar dari pada itu dan masih akan terus berjalan naik jika tak ada suatu hal yang membuat grafik tersebut jatuh. Sensus ekonomi ini sangat penting dalam merancang APBN sepuluh tahun kedepan. Ekonomi di indonesia umumnya belum di manfaatkan secra optimal. Dan perhatioan dari [pemerintah di pusat sangat kurang sehingga tak tahu bagaimana harus bertindak dan takut untuk gagal. Di sini sensus ekonomi sangat lah penting untuk mengkaji dan menganalisis ulang bagaimana pemerintah herus bertindak. Badan Pusat Statistik sangat mengharapkan pemerintah tanggap dan menanggapi data yang diberikan dan dianalisis dengan benar dan tak salah melakukan kebijakan yang tak berpihak untuk rakyat. Walaupun begitu sensus ekonomi ini tak akan membantu jika di biarkan menjadi data kosong yang tak ditanggapi dengan benar oleh pemerintah. Sensus ekonom mencatat berbagai kegiatan dan keadaan ekonomi di seluruh wilayah indonesia, jadi Badan Pusat Statistik mengetahui bagaimana keadaan indonesia yang sebenarnya, kesenjangan ekonomi pun sangat terlihat.
4. Sensus Ternak Sapi
Sensus sapi adalah pengumpulan data keberadaan dan jumlah sapi dan kerbau di seluruh wilayah Republik Indonesia. Sensus ini merupakan rangkaian dari sensus pertanian namun dilakukan di waktu yang berbeda sensus Ternak ini mencacah ternak sapi dan ternak kerbau yang ada di indonesia. Mencatat bagaimana dari berat dan jenis sapi dan kerbau di indonesia. Survey mencatat bahwa indonesia sapi nya kulaitas menengah kebawahkarena kesalahan pemeliharaan sapi yang sama sekali tak efektif dan tak ada penyuluhan dari pemerintah pusat. Sensus Ternak Sapi ini sangat penting untuk melihat bagaimana ternak ternak ini dan keadaan sebenarnya. Seperti data yang lain, data itu bisa di olah dan nanti akan bertemu solusi yang lebih baik dari sebelumnya, sensus ternak ini jangan di sepelekan karena kebutuhan daging di indonesia banyak dan pengusaha ternak sapi pun masih terus berfikir ulang untuk menggeluti usaha ini. Dengan sensus ternak diharapkan mampu memberi gambaran yang jealas tentang ternak sapi maupun kerbau
5. Sensus Industri Penggilingan Padi
Sensus Industri Penggilingan Padi adalah pengumpulan data keberadaan, penyebaran, aktivitas dan karakteristik kegiatan penggilingan padi di wilsyah Republik Indonesia dalam waktu tertentu.
Survey adalah kegiatan pengambilan data yang di lakukan secara sampling untuk melihat secara khusus suatu pendataan untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi pada saat tertentu. Survey biasanya adalah turunan dari sensus sensus pokok yang di lakukan oleh BPS dan biasnya survey dilakuakan agar bisa mengontrol perkembangan dari tahun ke tahun.
Beberapa contoh survey yang di laksanakan bps
1. Sarkenas
Sarkenas atau survey angkatan kerja adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui sampling untuk melihat berapa banyak jumlah angkatan kerja yang terdapat di Indonesia dan menghitung angkatan kerja yang masih produktif dan yang tidak produktif dalam jangka waktu tertentu. Dnegan dilakuklan sampling walau tak terlalu valid akan tetapi sudah mampu mewakili keadaan yang sebenarnya, sarkenas ini sangat penting di lakuakn karena bisa melihat berapa banyak angkatan kerja aktif maupun tak aktif yang ada di indonesia dan terus menerus mensosialisasikan angkatan kerja ini bisa menjadi angkatan kerja yang produktif, dengan SDM yang membaik di yakini bahwa kompetisi mencari pekerjaan pun semakin berat dari sebelumnya. Disinilah tugas pemerintah menganalisis data yang di beriakan oleh BPS agar dapat menemukan solusi yang bagus.
2. Susenas
Susenas atau survey sosial ekonomi nasional adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui sampling untuk mencari data berapa tingkat status seseorang di masyarakat dan status ekonomi di tingkat nasional.
3. Survey penduduk antar sensus
Survey penduduk antar sensus adalah pengumpulan data secara sampling untuk menghitung jumlah penduduk di Indonesia, survey ini mirip sensus penduduk dan di laksanakan di tengah tengah waktu rentan sensus penduduk yaitu pada tahun yang berakhiran lima. Survey ini mirip sensus kependudukan yang dilakukan setiap tahun yang berakhiran 0, fungsinya pun sama tak jauh beda, mungkin ketepatan saja lah yang membedakan keduanya. Sensus penduduk lebih tepat dari pada survey penduduk antar sensus. Walaupun begitu survey ini penting karena untuk melihat secara abstrak pertumbuhan penduduk di Indonesia bisa melihat dan menganalisis di data ini, dengan survey ini diharapkan mampu menghadirkan dan memberi penjelasan dan rencana selanjutnya untuk memilih kebijakan mengenai masalah kependudukan
4. Survey harga konsumen
Survey harga konsumen adalah pengumpulan sampling yang dilakukan untuk menghitung tingkat konsumeris di Indonesia dan perbandingannya di lakukan pada waktu tertentu.
Thursday, July 5, 2012
Situs Purbakala Watukandang
Situs Purbakala Watukandang
Situs
Purbakala Watukandang merupakan situs bangunan berbentuk pra candi
sebelum berkembang. Merupakan peninggalan megalistik berupa kelompok
deretan batu berdiri yang tertapa rapi. Situs Watukandang diperkirakan
sudah ada sebelum adanya candi-candi megah di Indonesia. Peninggalan ini
dikeramatkan oleh masyarakat dan dikenal dengan sebutan Watukandang.
terletak di tepi jalan tembus Tawangamngu – Matesih. Yang bisa ditemui
di Situs Watukandang antara lain :
- Punden Berundak dimana Batu Kadang ini berdiri condong sehingga seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang mereka.
- Menhir dimana bentuk dari salah satu dari Watu Kandang yang besar dan berdiri tegak seperti tugu, maka bisa diasumsikan bahwa Watu Kandang bisa jadi sebagai Tugu yang menurut mereka suci, dan sebagai tempat pemujaan roh-roh nenek moyang.
- Dolmen dimana Watu Kandang itu membentuk seperti meja di tengah-tengah Watu Kandang yang lainya, maka bisa diperkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji kepada roh nenek moyangnya.
- Lumbung Batu yang mana Watu Kandang berbentuk besar dan melebar, ditengahnya berbentuk cukung dan dalam. Maka bisa disimpulkan salah sutu Wutu Kandang Juga sebagai tempat pengupasan kulit padi.
- Gerabah dimana ditemukan berbagai manik-manik yang terbuat dari tanah liat disekitar Watu Kandang.
- Manik juga ditemukan manik-manik kecil yang berbentuk Heksagonal, Tetragonal, Silinder, Cornder.
- Kubur Batu yaitu kuburan atau tempat letak jenazah karena bentuk Watu Kandang yang membentuk persegi empat dengan ukuran batu dan jarak batu sama dan teratur membentuk sebagai tempat jenazah.
Situs Purbakala Palanggatan
Situs Purbakala Palanggatan
Planggatan
hingga kini masih merupakan situs sejarah yang miskin informasi.
Barulah sejak 1979 situs ini menjadi asuhan Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng. Pada tahun 1985 BP3 Jateng pernah
melakukan penggalian sebanyak dua kali. Dari penggalian ini diketahui
bahwa candi yang masih terpndam ini menghadap ke Barat. Entah mengapa,
setelah diketahui arah hadap candi, penggalian dihentikan dan batuan
candi ditutup kembali.Justru karena diketahui bahwa candi menghadap ke
Barat serta adanya relief pada batu yang sudah tampak, disimpulkan bahwa
situs ini serupa atau sealiran dengan Candi Sukuh.
Lokasi
Situs Planggatan memiliki total luas 4.460 meter persegi, diapit oleh perkampungan penduduk dan tanah tegalan (perkebunan). Kalau kita berada di lingkungan situs, terasa berada di puncak candi yang berpendar melingkar ke segenap penjuru. Kondisi situs pada saat ini, sebagian besar batu-batunya belum tergali secara utuh. Hanya tampak beberapa batu berelief yang masih setengah terpendam. Berdasarkan informasi, pada awalnya tempat keberadaan situs ini merupakan tanah kas desa/dusun yang ditanami rumput untuk pakan ternak. BP3 Jateng merngupayakan penyertifikatan tanah. Dengan demikian, tanah tempat situs ini sekarang resmi dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jateng dan ditetapkan sebagai cagar budaya. Bahkan hingga kini tidak ada restribusi. Dengan demikian sangat jarang wisatawan yang datang, kalau pun ada merupakan singgahan setelah dari Candi Sukuh.
Situs Planggatan memiliki total luas 4.460 meter persegi, diapit oleh perkampungan penduduk dan tanah tegalan (perkebunan). Kalau kita berada di lingkungan situs, terasa berada di puncak candi yang berpendar melingkar ke segenap penjuru. Kondisi situs pada saat ini, sebagian besar batu-batunya belum tergali secara utuh. Hanya tampak beberapa batu berelief yang masih setengah terpendam. Berdasarkan informasi, pada awalnya tempat keberadaan situs ini merupakan tanah kas desa/dusun yang ditanami rumput untuk pakan ternak. BP3 Jateng merngupayakan penyertifikatan tanah. Dengan demikian, tanah tempat situs ini sekarang resmi dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jateng dan ditetapkan sebagai cagar budaya. Bahkan hingga kini tidak ada restribusi. Dengan demikian sangat jarang wisatawan yang datang, kalau pun ada merupakan singgahan setelah dari Candi Sukuh.
Relief
Yang tersisa dari Candi Planggatan yang dibangun pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut kini hanyalah sisa-sisa candi berupa sekumpulan batu andesit tersusun berderet membentuk denah berukuran 30 x 30 meter sedangkan bagian tengahnya berupa gundukan tanah setinggi satu meter saja. Dari tinggalan beberapa batu candi yang tersisa ini ada yang mempunyai relief. Relief yang dipahatkan pada sebuah batu sebagai bagian dari sebuah candi biasanya berfungsi sebagai penghias candi belaka atau dapat pula memuat cerita yang sesuai dengan sifat keagamaan candi tersebut.
Yang tersisa dari Candi Planggatan yang dibangun pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut kini hanyalah sisa-sisa candi berupa sekumpulan batu andesit tersusun berderet membentuk denah berukuran 30 x 30 meter sedangkan bagian tengahnya berupa gundukan tanah setinggi satu meter saja. Dari tinggalan beberapa batu candi yang tersisa ini ada yang mempunyai relief. Relief yang dipahatkan pada sebuah batu sebagai bagian dari sebuah candi biasanya berfungsi sebagai penghias candi belaka atau dapat pula memuat cerita yang sesuai dengan sifat keagamaan candi tersebut.
Tampaknya relief-relief yang tersisa di
candi ini dahulunya merupakan rangkaian sebuah cerita tetapi mengingat
jumlahnya yang terbatas (hanya 6 lempang) tampaknya cerita yang ingin
disampaikan dalam relief tersebut sukar untuk dirangkai. Relief-relief
tersebut antara lain relief seorang tokoh laki-laki yang merangkul
pinggang tokoh lain (wanita) di bagian muka dan di bagian belakang tokoh
terdapat tiga orang pengiring; relief seorang tokoh menunggang kuda
sedang di bagian belakang tokoh tersebut ada dua orang pengiring membawa
tombak dan pada bagian depan terdapat tiga orang bertubuh pendek;
relief rumah panggung dan dua rumah berbentuk pendapa yang di bagian
sampingnya terdapat seorang pengawal membawa tombak mengiring seorang
tokoh menunggang kuda; relief beberapa orang membawa senjata; relief
seorang tokoh menunggang kuda diiringi oleh beberapa
wanita dan tiga punakawan.
“Gajah Wiku”
Dari sejumlah relief yang tersisa ini
ada satu relief yang cukup menarik dan menjadi petunjuk kuat mengenai
pertanggalan candi tersebut. Relief itu adalah relief seekor gajah yang
digambarkan secara antropomorfis (setengah hewan-setengah manusia) dalam
posisi berdiri dengan belalai ke bawah dan di bagian mulutnya terdapat
gambar bulan sabit, seolah-olah gajah tersebut tengah memakan buah
sabit. Gajah digambarkan memakai sorban seperti seorang wiku/pendeta.
Pada bagian pinggang memakai ikat pinggang yang dibuat dari lipatan kain
dan pada bagian pinggang sampai lutut tertutup kain pula. Relief ini
merupakan sebuah sengkalan memet yang jika dibaca berbunyi “Gajah wiku
mangan wulan” yang jika diartikan menjadi sebuah angka tahun 1378 caka
atau sama dengan 1456 Masehi. Penggambaran Gajah Wiku ini sama dengan
relief yang ditemukan di Candi Sukuh merupakan bagian dari relief pande
besi, hanya saja relief Gajah Wiku di Candi Sukuh digambarkan tengah
memakan buntut. Namun nilai sengkalan memetnya mempunyai arti yang sama
yakni 1378 caka. Artinya pembangunan kedua candi ini (Planggatan dan
Sukuh) mempunyai kurun waktu yang sama.
Pada bagian kanan relief Gajah Wiku ini terdapat pahatan prasasti sebanyak empat baris. Bentuk pahatan huruf prasasti ini juga sama dengan prasasti batu yang ditemukan di Candi Ceto dan Sukuh. Hasil pembacaan Riboet Darmosoetopo, seorang dosen arkeologi Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta menyebutkan.
Pada bagian kanan relief Gajah Wiku ini terdapat pahatan prasasti sebanyak empat baris. Bentuk pahatan huruf prasasti ini juga sama dengan prasasti batu yang ditemukan di Candi Ceto dan Sukuh. Hasil pembacaan Riboet Darmosoetopo, seorang dosen arkeologi Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta menyebutkan.
Sebenarnya sorban yang dipakai gajah
bukan menggabarkan wiku (bhikkhu) karena wiku tidak memakai sorban,
namun berkepala gundul. Rasanya lebih mengena bila disebut sebagai
“gajah begawan”, sebab penggambaran begawan ada yang bersorban
sebagaimana digambarkan sebagi Begawan Abiyasa. Pendapat yang lain Situs
ini termasuk peninggalan dari Prabu Brawijaya V Raja terakhir Majapahit
sebelum moksa. (wafat beserta raganya) Diceritakan bahwa Prabu
Brawijaya V atau Prabu Udara berpindah dari kratonnya di Jawa Timur ke
Gunung Lawu sebelah Barat (Jawa Tengah – Kab Karanganyar), sebelumnya
Brawijaya sempat beristirahat dan membuat singgahan di sekitar Rawa
Pening (Kab.Semarang) yg saat ini disebut Candi Dukuh. Kami belum dapat
menginformasikan letak Candi Dukuh.
Situs Purbakala Giyanti
Situs Purbakala Giyanti
Monumen
Perjanjian Giyanti atau Situs Giyanti terletak di desa Janti kalurahan
Jantiharjo Kecamatan Karanganyar Kota. Monumen ini merupakan suatu
monument sejarah yang sangat monumental yang menandai pembagian wilayah
Kerajaan Mataram Islam menjadi dua , yakni Surakarta dan Jogjakarta (
Kasunanan dan Kasultanan ) pada zaman pemerintahan Pakubuwono III
sekitar tahun 1755.
Ditempat inilah tersimpan ingatan
kolektif masyarakat Indonesia tentang kelicikan Penjajah Belanda dalam
menundukkan para penguasa Jawa melalui politik pecah belah (devide et
impera).
Ditempat ini pula terdapat peninggalan
arca yang belum sempurna. Komplek Monumen ini berada di lingkungan desa
yang teduh Naskah Perjanjian Giyanti 1755. Perjanjian Giyanti adalah
kesepakatan antara VOC, pihak Mataram (diwakili oleh Sunan Pakubuwana
III), dan kelompok Pangeran Mangkubumi.Kelompok Pangeran Sambernyawa
tidak ikut dalam perjanjian ini.Pangeran Mangkubumi demi keuntungan
pribadi memutar haluan menyeberang dari kelompok pemberontak bergabung
dengan kelompok pemegang legitimasi kekuasaan memerangi pemberontak
yaitu Pangeran Sambernyawa. Perjanjian yang ditandatangani pada bulan 13
Februari 1755 ini secara de facto dan de jure menandai berakhirnya
Kerajaan Mataram yang sepenuhnya independen. Nama Giyanti diambil dari
lokasi penandatanganan perjanjian ini, yaitu di Desa Giyanti (ejaan
Belanda, sekarang tempat itu berlokasi di Dukuh Kerten, Desa
Jantiharjo), di tenggara kota Karanganyar, Jawa Tengah.
Lokasi penandatanganan Perjanjian Giyanti
Berdasarkan perjanjian ini, wilayah
Mataram dibagi dua: wilayah di sebelah timur Kali Opak (melintasi daerah
Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris tahta Mataram (yaitu Sunan
Pakubuwana III) dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara wilayah
di sebelah barat (daerah Mataram yang asli) diserahkan kepada Pangeran
Mangkubumi sekaligus ia diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang
berkedudukan di Yogyakarta. Di dalamnya juga terdapat klausul, bahwa
pihak VOC dapat menentukan siapa yang menguasai kedua wilayah itu jika
diperlukan.
Perundingan pembagian Kerajaan Mataram
Peta pembagian Mataram setelah Perjanjian Giyanti dan didirikannya
Mangkunagaran pada tahun 1757. Menurut dokumen register harian N.
Hartingh (Gubernur VOC untuk Jawa Utara), pada tanggal 10 September 1754
N. Hartingh berangkat dari Semarang untuk menemui Pangeran Mangkubumi.
Pertemuan dengan Pangeran Mangkubumi sendiri baru pada 22 September
1754. Pada hari berikutnya diadakan perundingan yang tertutup dan hanya
dihadiri oleh sedikit orang. Pangeran Mangkubumi didampingi oleh
Pangeran Notokusumo dan Tumenggung Ronggo. Hartingh didampingi Breton,
Kapten Donkel, dan sekretaris Fockens. Sedangkan yang menjadi juru
bahasa adalah Pendeta Bastani.
Pembicaraan pertama mengenai pembagian
Mataram. N. Hartingh menyatakan keberatan karena tidak mungkin ada dua
buah matahari. Mangkubumi menyatakan di Cirebon ada lebih dari satu
Sultan. Hartingh menawarkan Mataram sebelah timur. Usul ini ditolak sang
Pangeran. Perundingan berjalan kurang lancar karena masih ada
kecurigaan diantara mereka. Akhirnya setelah bersumpah untuk tidak
saling melanggar janji maka pembicaraan menjadi lancar. Kembali Gubernur
VOC mengusulkan agar Mangkubumi jangan menggunakan gelar Sunan, dan
menentukan daerah mana saja yang akan dikuasai oleh beliau. Mangkubumi
berkeberatan melepas gelar Sunan karena sejak 5 tahun lalu diakui rakyat
sebagai Sunan. (Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sunan [Yang
Dipertuan] atas kerajaan Mataram ketika Paku Buwono II wafat di daerah
Kabanaran, bersamaan VOC melantik Adipati Anom menjadi Paku Buwono III).
Perundingan terpaksa dihentikan dan
diteruskan keesokan harinya. Pada 23 September 1754 akhirnya tercapai
nota kesepahaman bahwa Pangeran Mangkubumi akan memakai gelar Sultan dan
mendapatkan setengah Kerajaan. Daerah Pantai Utara Jawa (orang Jawa
sering menyebutnya dengan daerah pesisiran) yang telah diserahkan pada
VOC (orang Jawa sering menyebut dengan Kumpeni) tetap dikuasai VOC dan
ganti rugi atas penguasaan Pantura Jawa oleh VOC akan diberikan setengah
bagiannya pada Mangkubumi. Terakhir, Pangeran memperoleh setengah dari
pusaka-pusaka istana. Nota kesepahaman tersebut kemudian disampaikan
pada Paku Buwono III. Pada 4 November tahun yang sama, Paku Buwono III
menyampaikan surat pada Gubernur Jenderal VOC Mossel atas persetujuan
beliau tehadap hasil perundingan Gubernur Jawa Utara dan Mangkubumi.
Berdasarkan perundingan 22-23 September
1754 dan surat persetujuan Paku Buwono III maka pada 13 Februari 1755
ditandatangani ‘Perjanjian di Giyanti yang kurang lebih poin-poinnya,
seperti dikemukakan Soedarisman Poerwokoesoemo, sebagai berikut:
Pasal 1
Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai
Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin
Panotogomo Kalifattullah di atas separo dari Kerajaan Mataram, yang
diberikan kepada beliau dengan hak turun temurun pada warisnya, dalam
hal ini Pangeran Adipati Anom Bendoro Raden Mas Sundoro.
Pasal 2
Akan senantiasa diusahakan adanya kerjasama antara rakyat yang berada dibawah kekuasaan Kumpeni dengan rakyat Kasultanan.
Pasal3
Pasal3
Sebelum Pepatih Dalem (Rijks-Bestuurder) dan para Bupati mulai
melaksanakan tugasnya masing-masing, mereka harus melakukan sumpah setia
pada Kumpeni di tangan Gubernur.
Pasal 4
Sri Sultan tidak akan mengangkat/memberhentikan Pepatih Dalem dan Bupati, sebelum mendapat kanper setujuandari Kumpeni.
Pasal 5
Sri Sultan akan mengampuni Bupati yang selama dalam peperangan memihak Kumpeni.
Pasal 6
Sri Sultan tidak akan menuntut haknya atas pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran, yang telah diserahkan oleh Sri Sunan Paku Buwono II kepada Kumpeni dalam Contract-nya pada tanggal 18 Mei 1746. Sebaliknya Kumpeni akan memberi ganti rugi kepada Sri Sultan 10.000 real tiap tahunnya.
Pasal 7
Sri Sultan akan memberi bantuan pada Sri Sunan Paku Buwono III sewaktu-waktu diperlukan.
Pasal 8
Sri Sultan berjanji akan menjual kepada Kumpeni bahan-bahan makanan dengan harga tertentu.
Pasal 9
Sultan berjanji akan mentaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan antara raja-raja Mataram terdahulu dengan Kumpeni, khususnya perjanjian-perjanjian 1705, 1733, 1743, 1746,1749.
Penutup
Perjanjian ini dari pihak VOC ditanda tangani oleh N. Hartingh, W. van Ossenberch, J.J. Steenmulder, C. Donkel, dan W. Fockens. ”
Perlu ditambahkan Pepatih Dalem (Rijks-Bestuurder/Chief of Administration Officer) dengan persetujuan residen/gubernur adalah pemegang kekuasaan eksekutif sehari hari yang sebenarnya (bukan di tangan Sultan).
Pasal 5
Sri Sultan akan mengampuni Bupati yang selama dalam peperangan memihak Kumpeni.
Pasal 6
Sri Sultan tidak akan menuntut haknya atas pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran, yang telah diserahkan oleh Sri Sunan Paku Buwono II kepada Kumpeni dalam Contract-nya pada tanggal 18 Mei 1746. Sebaliknya Kumpeni akan memberi ganti rugi kepada Sri Sultan 10.000 real tiap tahunnya.
Pasal 7
Sri Sultan akan memberi bantuan pada Sri Sunan Paku Buwono III sewaktu-waktu diperlukan.
Pasal 8
Sri Sultan berjanji akan menjual kepada Kumpeni bahan-bahan makanan dengan harga tertentu.
Pasal 9
Sultan berjanji akan mentaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan antara raja-raja Mataram terdahulu dengan Kumpeni, khususnya perjanjian-perjanjian 1705, 1733, 1743, 1746,1749.
Penutup
Perjanjian ini dari pihak VOC ditanda tangani oleh N. Hartingh, W. van Ossenberch, J.J. Steenmulder, C. Donkel, dan W. Fockens. ”
Perlu ditambahkan Pepatih Dalem (Rijks-Bestuurder/Chief of Administration Officer) dengan persetujuan residen/gubernur adalah pemegang kekuasaan eksekutif sehari hari yang sebenarnya (bukan di tangan Sultan).
Badai belum berlalu Perjanjian Giyanti
belum mengakhiri kerusuhan karena dalam perjanian ini kelompok Pangeran
Sambernyawa (Raden Mas Said) tidak turut serta.Mengapa dalam perjanjian
Giyanti ini Pangeran Sambernyawa tidak turut serta? Para Pujangga Jawa
dan Sejarahwan rupanya enggan untuk menulis persoalan detail sekitar
perjanjian ini atau paling tidak generasi muda diberi suatu informasi
yang benar sebagai landasan membangun mentalitas bangsa pentingnya
persatuan.
Dalam Perjanjian Giyanti ini Pangeran
Sambernyawa adalah rivalitas Pangeran Mangkubumi untuk menjadi penguasa
nomer satu di Mataram.Perjanjian Giyanti merupakan persekongkolan untuk
menghancurkan pemberontak.Berhubung pemberontak Mangkubumi sudah
bertobat dan kembali bersama VOC dan Paku Buwono III bersekutu kembali
untuk tujuan yang sama mematahkan dan menumpas pemberontakan.
Pemberontak yang dimaksud dalam persekutuan dengan Perjanjian Giyanti
adalah Pangeran Sambernyawa.Sebagai pemimpin pemberontak Pangeran
Sambernyawa dinyatakan sebagai musuh bersama.Disini Perjanjian Giyanti
terjadi bukannya tanpa sebab.Sebab yang utama adalah “penyeberangan
Pangeran Mangkubumi” dari memberontak menjadi sekutu VOC dan Paku Buwono
III.
Mengapa dan bagaimana Pangeran Mangkubumi yang telah lari dari Keraton dan menggabungkan diri dengan pemberontak tiba tiba kembali memerangi pemberontak? Dengan Perjanjian Giyanti Pangeran Mangkubumi sudah bukan lagi sebagai pejabat bawahan Paku Buwono III melainkan sebagai penguasa yang demi alasan ketenteraman Kerajaan memainkan peran memerangi pemberontak.
Mengapa dan bagaimana Pangeran Mangkubumi yang telah lari dari Keraton dan menggabungkan diri dengan pemberontak tiba tiba kembali memerangi pemberontak? Dengan Perjanjian Giyanti Pangeran Mangkubumi sudah bukan lagi sebagai pejabat bawahan Paku Buwono III melainkan sebagai penguasa yang demi alasan ketenteraman Kerajaan memainkan peran memerangi pemberontak.
Disini rupanya Sejarah ada yang
disembunyikan dan ditutup tutupi. Pangeran Mangkubumi yang sebelum
Perjanjian Giyanti memusuhi VOC secara tiba tiba berbalik bahu membahu
memerangi pemberontak. Apa latar belakang yang mendasari sehingga
terjadi persekutuan baru VOC, Paku Buwono III dan Pangeran Mangkubumi?
Persekutuan Paku Buwono III dengan VOC sudah bukan barang baru lagi
karena keduanya bersekutu untuk menumpas pemberontakan. Pangeran
Mangkubumi merupakan persoalan tersendiri karena bersama Pangeran
Sambernyawa berada dalam posisi memberontak dan memusuhi VOC.
Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa tidak kompak dalam menghadapi VOC.Kedua nya berselisih dan puncak perselisihan itu mengemuka dengan menyeberangnya Pangeran Mangkubumi ke pihak lawan ( VOC ).Penyeberangan itu dilakukan karena kekuatan bersenjata Pangeran Mangkubumi mengalami kekalahan yang sangat telak dan Pangeran Mangkubumi tidak ingin kehilangan kekuasaannya atas kekuatan bersenjatanya akibat kalah dengan Pangeran Sambernyawa.VOC melihat bahwa Pangeran Mangkubumi tidak bakalan menyeberang ke pihaknya kalau tidak mengalami kekalahan dalam perselisihan itu.
Dengan bersama sama Kompeni atau VOC maka musuh Pangeran Mangkubumi bukan lagi VOC/kompeni/Belanda melainkan musuhnya adalah Pangeran Sambernyawa sebagai musuh bersama ( VOC/Kompeni/Belanda, Pakubuwono III, Pangeran Mangkubumi).
Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa tidak kompak dalam menghadapi VOC.Kedua nya berselisih dan puncak perselisihan itu mengemuka dengan menyeberangnya Pangeran Mangkubumi ke pihak lawan ( VOC ).Penyeberangan itu dilakukan karena kekuatan bersenjata Pangeran Mangkubumi mengalami kekalahan yang sangat telak dan Pangeran Mangkubumi tidak ingin kehilangan kekuasaannya atas kekuatan bersenjatanya akibat kalah dengan Pangeran Sambernyawa.VOC melihat bahwa Pangeran Mangkubumi tidak bakalan menyeberang ke pihaknya kalau tidak mengalami kekalahan dalam perselisihan itu.
Dengan bersama sama Kompeni atau VOC maka musuh Pangeran Mangkubumi bukan lagi VOC/kompeni/Belanda melainkan musuhnya adalah Pangeran Sambernyawa sebagai musuh bersama ( VOC/Kompeni/Belanda, Pakubuwono III, Pangeran Mangkubumi).
Situs Watu Gilang
Situs Watu Gilang
Di
tapal masuk hutan Krendhowahono, Desa Krendhowahono Kecamatan
Gondangrejo Kabupaten Karanganyar tempat pundhen untuk menggelar ritual
Wilujengan Nagari Mahesa Lawung (menanam sesaji kepala kerbau) ± 400
meter disebelah barat pundhen terdapat sebuah batu yang dikhususkan
keberadaannya. Sepintas batu itu tak jauh berbeda dengan batu-batu yang
lain, namun batu ini keberadaanya memang terasa dikhususkan. Batu
tersebut dinamakan Watu Gilang karena memang bentuk batu yang cenderung
datar.
Meski batu tersebut telah diperlakukan khusus ternyata memang belum dikenal dikalangan masyarakat luas. Hal ini karena ritual tahunan (Wilujengan Nagari Mahesa Lawung) yang cukup dikenal luas oleh masyarakat yang menyamarkan keberadaan Watu Gilang. Lalu apa yang menarik dari keberadaan sebuah batu itu ?
Meski batu tersebut telah diperlakukan khusus ternyata memang belum dikenal dikalangan masyarakat luas. Hal ini karena ritual tahunan (Wilujengan Nagari Mahesa Lawung) yang cukup dikenal luas oleh masyarakat yang menyamarkan keberadaan Watu Gilang. Lalu apa yang menarik dari keberadaan sebuah batu itu ?
Banyak yang tidak menyangka jika batu
yang diperlakukan khusus itu ternyata menyimpan sejarah perjuangan
Pangeran Diponegoro. Bahkan tidak mustahil apabila Watu Gilang tersebut
bisa menguak tentang pertanyaan Bagaimana sikap Keraton Surakarta
terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro.
Batu itu diyakini sebagai tempat duduk
pada pertemuan Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku
Buwono IV dengan Pangeran Diponegoro yang ketika itu sekitar awal abad
XVIII, telah memulai berjuang melawan Kompeni Belanda. Sedang
Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono IV
adalah penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat (1788 – 1820).
Candi Sukuh
Candi Sukuh
Pengantar
Bangsa Indonesia dikenal memiliki
kebudayaan dan peninggalan seni budaya yang beragam. Mulai dari seni
bangunan, kriya, bahasa, norma kehidupan sosial, adat istiadat dan
berbagai seni budaya yang tak terhitung jumlahnya. Kebudayaan dan
peninggalan seni budaya tersebut mempunyai nilai yang tinggi dan
beberapa diantaranya diakui oleh dunia sebagai warisan budaya asli
“heritage of” Indonesia. Seni budaya yang masih banyak dijumpai di
Indoensia antara lain bangunan candi, keris, wayang, seni pertunjukan
tari tradisional, gamelan, kethoprak kemudian batik, topeng, adat
kebiasaan seperti upacara-upacara ritual, dan lainnya.
Candi merupakan peninggalan budaya
bangsa Indonesia yang memiliki nilai sejarah yang sangat berharga.
Peninggalan candi banyak tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah
terbanyak berada di pulau Jawa. Candi Borobudur dan candi Prambanan
adalah beberapa candi yang sangat dikenal bahkan sampai ke mancanegara.
Tidak hanya candi Borobudur, candi Prambanan dan beberapa candi besar
lainnya, namun kita juga memiliki banyak candi yang berukuran lebih
kecil dan memiliki ciri khas yang berbeda. Candi Muara Takus di Riau,
Biaro Bahal di Sumatera Utara, atau candi Agung di Kalimantan Timur,
menunjukkan candi bukan milik Pulau Jawa saja.
Istilah candi digunakan untuk
menyebutkan sebuah bangunan yang berasal dari masa klasik sejarah
Indonesia, yaitu dari kurun waktu abad ke-5 M hingga ke-16 M. Candi
dapat berupa bangunan kuil yang berdiri sendiri atau berkelompok. Dapat
pula berupa bangunan berbentuk gapura beratap (Paduraksa) dan tidak
beratap (Candi Bentar). Petirtaan yang dilengkapi kolam dan arca
pancuran juga kerap disebut candi.
Candi yang berada di daerah lain seperti
Sumatera Utara dikenal istilah ”biaro” dan di Jawa Timur istilah
”cungkub”. Namun masyarakat lebih mengenal istilah candi, apa pun jenis
bangunan kuno (termasuk reruntuhan) serta di mana pun letak candi
berada. Kata ”candi” berasal dari salah satu nama yang diberikan kepada
Dewi Durga, yakni permaisuri Dewa Siwa. Dewi Durga disimbolkan sebagai
Dewi Maut yang disebut dengan “candika”. Istilah candi kemudian
digunakan untuk menyebutkan bangunan peninggalan pada jaman Indonesia
purba.
Candi merupakan peninggalan
kerajaan-kerajaan kuno yang pernah ada di Indonesia, seperti Mataram
Hindu, Singasari, Majapahit, dan Sriwijaya. Candi Borobudur dan Candi
Prambanan (Loro Jonggrang) adalah bukti-bukti kejayaan Kerajaan Mataram
dari abad ke-8 hingga ke-11. Candi Singasari, Kidal, dan Jago
merupakan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Singasari, dari abad ke-11
hingga ke-13. Candi Tikus, Bajangratu, Brahu, dan Wringin Lawang adalah
peninggalan Kerajaan Majapahit dari abad ke-13 hingga ke-15.
Candi-candi di sekitar Muara Jambi diduga merupakan sisa-sisa Kerajaan
Sriwijaya dari abad ke-7 hingga ke-11.
Candi-candi di Indonesia umumnya
bercirikan agama Budha (terutama aliran Mahayana dan Tantrayana) dan
agama Hindu (terutama aliran Siwaisme). Candi bersifat Budha dikenal
lewat arca Budha dan bentuk stupa, misalnya Borobudur dan Mendut.
Sementara itu, Candi bersifat Hindu mempunyai arca-arca dewa-dewi di
dalamnya, misalnya Prambanan dan Dieng. Uniknya, beberapa candi
bersifat campuran Siwa-Budha, antara lain Singasari dan Jawi di Jawa
Timur.
Candi di Indonesia dapat dibedakan
berdasarkan langgam seninya menjadi tiga bagian. Pertama, langgam Jawa
Tengah Utara. Contohnya Candi Gunungwukir, Badut, Dieng, dan
Gedongsongo. Kedua, Langgam Jawa Tengah Selatan misalnya Candi Kalasan,
Sari, Borobudur, Mendut, Sewu, Plaosan, dan Prambanan. Ketiga, langgam
Jawa Timur, termasuk candi-candi di Bali, Sumatera dan Kalimantan.
Contohnya Candi Kidal, Jago, Singasari, Jawi, Panataran, Jabung, Muara
Takus dan Gunung Tua. Ditilik dari corak dan bentuknya, pada dasarnya
candi di Jawa Tengah Utara tidak berbeda dari candi-candi Jawa Tengah
Selatan. Hanya candi-candi di Jawa Tengah Selatan lebih mewah dan lebih
megah dalam bentuk dan hiasan dibandingkan candi-candi Jawa Tengah
Utara. Perbedaan yang nyata terdapat pada candi-candi Jawa Tengah dan
Jawa Timur.
Umumnya candi langgam Jawa Tengah
berbentuk tambun, atapnya berundak-undak, reliefnya timbul agak tinggi
dan lukisannya naturalis, mengha-dap ke Timur, letak candi di halaman
utama, gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara serta berbahan
batu andesit. Sementara itu, candi langgam Jawa Timur berbentuk ramping,
atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus,
makara tidak ada hanya hiasan atasnya diberi kepala kara, reliefnya
timbul sedikit, lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, letak
candi di halaman belakang, menghadap ke barat dan berbahan batu bata.
Sejumlah arkeolog menamakan gaya seni candi berdasarkan aspek zaman dan
periode, yaitu gaya Mataram Kuno (abad VIII-X), gaya Singasari (abad
XII-XIV), dan gaya Majapahit (abad XIII-XV).
Dahulu candi di Indonesia digunakan
sebagai pemujaan terhadap nenek moyang (makam). Ada beberapa candi yang
berfungsi sebagai stupa (candi Borobudur), sebagai wihara (candi
Sari), sebagai istana (candi Boko), sebagai petirtaan / pemandian
(taman sari) dan sebagai gapura (candi Bajang Ratu). Penggunaan candi
sebagai tempat pemujaan dilakukan masyarakat (Jawa-bahkan hingga
sekarang) karena dianggap roh nenek moyangnya akan pergi menuju ke Yang
Kuasa. Mahameru (gunung) dianggap sebagai tempat yang tinggi makna
simboliknya, yakni makna-makna sakral, lebih dekat dengan Yang Kuasa dan
kekuasaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu candi-candi di Indonesia
banyak yang “bersandar” di gunung yakni didirikan di tempat dataran
yang tinggi, lereng atau area sekitar gunung-gunung. Lokasi candi yang
berada di gunung ini membuat lokasi candi biasanya berada di luar
pusat-pusat kerajaan kuno di Indonesia.
Pendirian candi-candi yang ada di
Indonesia mempunyai maksud, fungsi dan tujuan. Setiap candi biasanya
memiliki relief yang merupakan cerita, tuntunan nilai-nilai yang tinggi
dari pendirinya, dari cerita Ramayana, Mahabarata hingga relief-relief
yang melukiskan kejayaan suatu kerajaan. Setiap candi mempunyai ciri
dan keunikan tersendiri, salah satunya adalah candi Sukuh. Situs candi
ini sangat unik, baik dilihat dari bentuk candi secara umum maupun dari
relef-relief yang dipahat di dalamnya. Menurut sejarah, Candi Sukuh
dibangun pada sekitar abad ke-15 oleh masyarakat Hindu Tantrayana..
Candi ini dibangun pada masa akhir runtuhnya Kerajaan Majapahit yang
berpaham Hindu. Pada waktu itu para pengikut setia Kerajaan Majapahit
yang runtuh diserang Kerajaan Demak (berpaham Islam) melarikan diri ke
lereng Gunung Lawu, kemudian membangun candi ini.
Situs candi Sukuh ditemukan kembali
pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh
Johnson, pada waktu itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk
mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Mulai
saat itu banyak kalangan sarjana mengadakan penelitian Candi Sukuh
antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek
tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim.
Profil Candi sukuh
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng
kaki Gunung Lawu pada ketinggi-an kurang lebih 1.186 meter di atas
permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan
111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di dukuh Berjo, desa
Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan
Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer
dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta. Kurang lebih 4
kilometer mendaki gunung Lawu lagi, terdapat situs Candi Cetho. Untuk
menuju lokasi ini kita dapat mengikuti jalan luar propinsi yang menuju
kearah objek wisata Tawang Mangu, bahkan jika terus naik kita dapat
menjumpai objek wisata Waduk Sarangan yang berada di wilayah
Kabupaten Magetan Jawa Timur. Di sekitar candi sukuh juga terdapat
sebuah makam mantan Ibu Negara yakni makam Kalitan tempat disemayamkan
Ibu Tien Soeharto. Jalan untuk mencapai lokasi candi Sukuh mempunyai
medan yang cukup terjal karena berada di atas sebuah bukit. Namun
sekarang jalan menuju ke candi sudah diaspal cukup nyaman meskipun
harus hati-hati karena terkadang ada kabut tebal yang mengurangi
pandangan depan dan membuat jalan aspal semakin licin.
Bangunan candi Sukuh memiliki ciri khas
bentuk yang relatife sederhana dibandingkan dengan candi lain. Hiasan
candi dan relief yang ada di candi Sukuh hanya sedikit dan tidak
terlalu dekoratif . Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh
berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah
lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bahkan bentuk
bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di
Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Bentuk candi ini yang
berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi lain di
Indonesia. Struktur ini juga mirip dengan bentuk piramida di Mesir.
Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya objek-objek lingga
dan yoni yang melambangkan seksualitas.
Kesan kesederhanaan bentuk candi ini
menurut arkeolog Belanda W.F. Stutterheim (tahun 1930) ada tiga
argumen: pertama, kemungkinan pemahat candi Sukuh bukan seorang tukang
batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton,
kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi, atau
ketiga bahwa keadaan politik pada waktu itu menjelang keruntuhan
Kerajaan Majapahit karena didesak oleh pasukan Islam Demak, sehingga
tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.
Gapura Pertama dengan bentuk arsitektur yang khas,disusun agak miring berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.
Berbagai relief tampak dilukiskan di
beberapa sudut candi, beberapa ornamen sakral seperti Lingga-Yoni
digambarkan secara realistis mirip sekali dengan genital pria dalam
kehidupan kita sehari-hari. Beberapa kalangan menyebut candi ini
disebut candi porno, padahal pada zaman dahulu mungkin kaum awam tidak
mudah masuk kedalam candi ini karena kesakralannya yang tinggi.
Teras Pertama
Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan
trap (teras), teras yang posisinya makin ke belakang terletak di
dataran yang makin tinggi. Pada teras pertama terdapat pintu gerbang
(gapura) utama. Bentuk gapuranya amat unik yakni dibuat miring seperti
trapezium, layaknya pylon (gapura pintu masuk ke tempat suci) di Mesir.
Pada sisi gapura sebelah utara terdapat relief “manusia ditelan
raksasa” yakni sebuah “sengkalan rumit” yang bisa dibaca “Gapura buta
mangan wong “ (gapura raksasa memakan manusia ). Gapura dengan karakter
9, buta karakternya 5, mangan karakternya 3, dan wong mempunyai
karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau
tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini.
Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan
phallus (penis) berhadapan dengan vagina dengan di kelilingi oleh
kalungan sperma. Sepintas relief ini mempunyai kesan porno, namun relief
ini mengandung makna yang mendalam, lingga-yoni ini merupakan lambang
kesuburan.
Lingga yoni berbentuk alat kelamin pria dan wanita serta berkalung untaian sprema
gambar.
Relief tersebut di pahat di lantai pintu
masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut
segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena
“suwuk”. Relief tersebut berfungsi sebagai “suwuk” untuk “ngruwat”,
yakni membersihkan segala kotoran yang melekat di hati setiap manusia.
Dalam bukunya Candi Sukuh Dan Kidung Sudamala Ki Padmasuminto
menerangkan bahwa relief tersebut merupakan sengkalan yang cukup rumit
yaitu : “Wiwara Wiyasa Anahut Jalu “.Wiwara artinya gapura yang suci
dengan karakter 9, Wiyasa diartikan daerah yang terkena “suwuk” dengan
karakter 5, Anahut (mencaplok) dengan karakter 3, Jalu ( laki-laki )
berkarakter 1. Jadi bisa di temui angka tahun 1359 Saka.
Teras kedua
Gapura yang terletak di teras kedua
kondisinya telah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat
patung penjaga pintu atau dwarapala dalam keadaan rusak dan sudah
tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak memiliki atap dan pada
teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Pada bagian tengah
terdapat relief yang menggambarkan Ganesya dengan tangan yang memegang
ekor. Relief ini terdapat sebuah candrasangkala pula yang dalam bahasa
Jawa berbunyi “gajah wiku anahut buntut”, artinya dalam bahasa
Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki
makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka
atau tahun 1456 Masehi. Jika angka tahun ini benar menunjukkan
pembangunan gapura ini, maka ada selisih hampir duapuluh tahun antara
gapura di teras kedua ini dengan gapura di teras pertama.
Trap kedua ini lebih tinggi daripada
trap pertama dengan pelataran yang lebih luas. Terdapat jejeran tiga
tembok dengan pahatan-pahatan relief yang menggambarkan peristiwa
sosial yang menonjol di masyarakat sekitar pada saat pembangunan Candi
Sukuh, relief ini disebut relief Pande Besi. Relief sebelah selatan
menggambarkan seorang wanita terdiri di depan tungku pemanas besi,
kedua tangannya memegang tangkai “ububan” ( peralatan mengisi udara pada
pande besi). Pande besi adalah pengrajin yang membuat peralatan untuk
menunjang kehidupan, seperti alat-alat pertanian, alat rumah tangga dan
lain-lain.
Bangunan utama candi Sukuh, bentuknya seperti bentuk Pyramid
Teras ketiga
Pada teras ketiga ini terdapat
pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri
serta patung-patung di sebelah kanan. Apabila ingin mendatangi candi
induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi
daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya
juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian, sebab candi
induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, memang dibuat untuk menguji
keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih
perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun
apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini,
kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
Relief pada sebelah utara menggambarkan
seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki selonjor. Di depannya
tergolek senjata-senjata tajam seperti keris, tumbak dan pisau. Trap
Ketiga ini trap tertinggi yang merupakan trap paling suci. Tepat di
bagian tengah candi utama terdapat sebuah bujur sangkar yang merupakan
tempat menaruh sesajian, untuk membakar kemenyan, dupa dan hio.
Dengan struktur bangunan seperti ini,
candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu
Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candi harus bujur
sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah
itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata
menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang
mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah
memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli
Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman
Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia
tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena
trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak
petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga
ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan
batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada
umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci”
prasejarah jaman Megalithic.
Kemudian pada bagian kiri candi induk
terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi
Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala.
Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan
Sadewa. Disebut Sudamala (suda artinya: bersih, mala berarti: dosa)
sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang menda-pat
kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil
“ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga
atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula, yakni seorang
bidadari di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala. Sehingga cerita
Sudamala ini kemudian disebutkan dalam sebuah buku / kidung, yakni
Kidung Sudamala. Urutan relief dalam fragmen Sudamala adalah sebagai
berikut:
Relief pertama
Di bagian kiri dilukiskan sang
Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda
dari para Pandawa Lima. Keduanya adalah putra Prabu Pandu dari istrinya
yang kedua, Dewi Madrim. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan
Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama
Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari
Pandu, yaitu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan
Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau
pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita
yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan. Relief ini
menggambarkan ketika Dewi Kunthi meminta pada Sadewa agar mau “ngruwat”
Bethari Durga namun Sadewa menolak.
Relief kedua.
Pada relief kedua ini dipahat gambar
Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita)
yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan
Kalanjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan
membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalanjaya adalah jelmaan bidadara yang
dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai
raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam
dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di
belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang
melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung
hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di
hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang
diusir dari sorga karena pelanggaran.
Relief ketiga
Pada bagian ini digambarkan
bagaimana Sadewa bersama punakawan-nya, Semar berhadapan dengan pertapa
buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas.
Atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskannya, Sadewa harus
mengawini anak seorang pendeta buta. Pertapa buta itu pun
disembuhkannya dari kebutaan.
Relief keempat
menggambarkan Sadewa berhasil
“ngruwat” Sang Durga. Sadewa kemudian diperintah pergi kepertapaan
Prangalas, di situ Sadewa menikah dengan Dewi Pradapa. Adegan di sebuah
taman indah di mana sang Sadewa sedang bercengkerama dengan
Tambrapetra dan putrinya Dewi Padapa serta seorang punakawan di
pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan
putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.
Relief kelima
Relief ini melukiskan adegan adu
kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Bima
dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa
tersebut untuk dibunuh dengan kuku pancanakanya.
Beberapa bangunan di sekitar candi utama
Pada sebelah selatan jalan batu ada
terdapat candi kecil, yang didalamnya terdapat arca dengan ukuran yang
kecil pula. Di lokasi ini terdapat dua buah patung Garuda yang
merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam
kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang
Garuda terdapat sebuah prasasti yang menandai tahun saka 1363. Cerita
ikwal Garudeya adalah sebagai berikut: Garuda mempunyai ibu bernama
Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama Dewi
Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena telah kalah bertaruh
tentang warna ekor kuda uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh
sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berwujud ular naga
yang berjumlah seribu yang menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda
Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam. Dewi Winata dapat
diruwat Sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan)
kepada para Dewa.
Altar berbentuk kura-kura
Kemudian sebagai bagian dari kisah
pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di dekat candi kecil terdapat
kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari
dunia bawah yakni dasar Gunung Mahameru, ini berkaitan dengan kisah
suci agama Hindhu yakni “samudra samtana” yaitu ketika Dewa Wisnu
menjelma menjadi kura-kura raksasa untuk membantu para dewa-dewa lain
mencari air kehidupan (tirta perwita sari). Bentuk kura-kura ini
menyerupai meja yang kemungkinan didesain sebagai tempat menaruh untuk
sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung
Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari
Tirta Amerta (kisah Pemutaran Laut Mencari Amerta).
Bangunan Dan Patung Lainnya
Salah satu prasasti di kompleks
candi Suku.Di komplek candi induk terdapat sebuah prasasti yang
menyiratkan bahwa candi Sukuh dalam candi untuk Pengruwatan, yakni
prasasti yang diukir dipunggung relief sapi. Sapi tersebut digambarkan
sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit: “Goh
wiku anahut buntut” maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna
tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada dipunggung sapi
yang artinya kurang lebih demikian: untuk diingat-ingat ketika
bersujud di kahyangan (puncak gunung), terlebih dulu agar datang di
pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh wiku anahut buntut 1379.
Kata yang sama dengan ruwatan disini yaitu kata: “pawitra” yang artinya
pemandian suci. Karena di kompleks Candi Sukuh tidak terdapat
pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci
untuk “ngruwat” seperti halnya kata “tirta sunya”. Tempat suci untuk
pengruwatan, seperti yang sudah diutarakan, dengan bukti-bukti relief
cerita Sudamala, Garudeya serta prasasti-prasasti, maka dapat
dipastikan candi Sukuh pada jamannya adalah tempat suci untuk
melangsungkan upacara-upacara besar (ritus) ruwatan.
Selain candi utama dan patung-patung
kura-kura, garuda serta relief-relief, masih ditemukan pula beberapa
patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada
zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah untuk
sarana transportasi. Bentuk bangunan lain adalah relief tapal kuda yang
menggambarkan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan
yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini
melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan
kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Kemudian ada
sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara.
Di bagian tengah bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa
kepala.
Keberadaan Candi Sukuh
Bentuk candi Sukuh secara umum lebar
bagian bawah candi kemudian meruncing ke atas seperti gunung, meskipun
secara spesifik bentuk candi Sukuh ini tergolong unik dibandingkan
dengan candi-candi lain di Jawa (Tengah). Sesuai dengan kepercayaan
masyarakat pada waktu itu bahwa gunung merupakan tempat yang memiliki
unsur kekuatan dan kesakralan, maka candi ini dibangun di sebuah lereng
gunung Lawu. Kondisi ini memberikan pandangan bahwa bangunan candi ini
didirikan di luar pusat pemerintahan atau pusat kerajaan yang
mendirikannya, karena biasanya pusat-pusat kekuasaan kerajaan jaman dulu
berada di dataran yang rata dan tidak berbukit seperti Kraton Jogja,
Solo, dan lainnya.
Seperti yang telah diuraikan di atas,
bahwa sejarah berdirinya situs candi Sukuh ini pada awal abad 15.
Menurut sejarah pula, candi Sukuh didirikan oleh para pelarian Kerajaan
Majapahit yang kalah perang melawan Kerajaan Demak dalam proses
penyebaran agama Islam di Jawa. Kerajaan Hindu Majapahit mengalami
puncak kejayaannya pada tahun 1350–1389. Puncak kejayaan Majapa-hit ini
dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada yang
menguasai seluruh kepulauan Indonesia bahkan hingga Jazirah Malaka
sesuai dengan “Sumpah Palapa” Gajah Mada yang ingin Nusantara bersatu.
Kemudian Islam mulai masuk ke Jawa dengan membawa pengaruh dan
perkembangan yang sangat pesat. Apabila sejarah ini benar, maka lokasi
situs candi yang didirikan oleh pengikut Majapahit ini berada sangat
jauh dari pusat kerajaan Majapahit. Pusat kerajaan Majapahit berada di
Jawa Timur sedangkan lokasi candi Sukuh masuk ke wilayah Jawa Tengah
(meskipun dalam wilayah perbatasan Jateng dan Jatim).
Lokasi candi Sukuh saat ini berada di
dalam wilayah Karesidenan Surakarta. Sejarah berdirinya karesidenan
Surakarta sendiri mempunyai rentang waktu yang cukup lama dengan
berdirinya candi Sukuh. Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri sebagai
suatu kerajaan pecahan dari Kesultanan Mataram (Islam) pada 13
Februari 1755, yaitu sebagai akibat dari ditandatanganinya Perjanjian
Giyanti. Pemerintah Hindia Belanda dalam perjanjian tersebut juga
mengakui Sunan Pakubuwana III sebagai raja yang berhak mengatur rumah
tangganya sendiri. Di awal masa kemerdekaan (1945-1946), bersama Praja
Mangkunegaran sempat menjadi Daerah Istimewa Surakarta. Akan tetapi
karena kerusuhan dan agitasi politik saat itu, maka pada tanggal 16 Juni
1946 oleh Pemerintah Indonesia statusnya diubah menjadi Karesidenan
Surakarta, menyatu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa candi Sukuh bukan produk dari Kasunanan
Surakarta, karena usia candi Sukuh keberadaannya lebih dulu daripada
Kasunanan Surakarta. Candi Sukuh juga bukan merupakan produk dari
Kesultanan Mataram, karena Kesultanan Mataram menganut paham Islam yang
mentabukan keberadaan candi. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan
bahwa candi Sukuh kemungkinan bukan produk sebuah kerajaan tertentu
sehingga tidak berada di sebuah pusat pemerintahan atau pusat kerajaan.
Keberadaan candi Sukuh yang berlokasi di
tempat yang jauh dari pusat kerajaan serta relief yang dipahat kurang
indah dibandingkan dengan candi-candi lain di Indonesia, menunjukkan
bahwa candi ini dibuat oleh orang-orang yang kurang memahami atau
memiliki kemampuan skill dan pengetahuan tentang pembuatan candi pada
waktu itu. Bentuk candi yang sederhana dan terlihat lain dibandingkan
dengan candi lain diperkirakan dipahat oleh orang yang tidak menguasai
teknik pahat batu atau bahkan dipahat oleh tukang kayu atau tukang
pande besi, karena disana juga ditemukan relief kegiatan pande yakni
membuat peralatan atau kerajinan dari besi.
Lokasi candi yang berada di sebuah
lereng gunung Lawu ini juga menunjukkan bahwa penentuan tempat ini
seadanya tanpa memperhitungkan kondisi yang lebih strategis. Pemilihan
lokasi candi yang jauh di lereng gunung tersebut “candi ndeso”
kemungkinan merupakan tempat yang aman bagi para pelarian orang
Majapahit yang kalah perang oleh pasukan Islam Demak. Pelarian yang
kalah dalam suatu pertempuran tentunya mencari tempat persembunyian
yang aman dan jauh dari pusat keramaian, maka dengan lokasi candi Sukuh
yang pada waktu dulu mungkin tempatnya sangat sulit untuk dijangkau
oleh lain.
Penutup
Candi Sukuh merupakan candi yang
digunakan sebagai sarana peribadahan umat Hindu pada waktu itu.
Meskipun adanya relief penis dan vagina yang terkesan porno, namun
tentunya memiliki simbol dan makna tertentu karena candi ini digunakan
sebagai tempat beribadah. Relief lingga yoni di gapura terdepan dan
bagian atas candi induk di candi Sukuh juga merupakan lambang ucapan
syukur masyarakat setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan
yang mereka peroleh. Sedangkan dilihat dari bentuk candi yang mirip
dengan “punden berundak” tentulah candi ini merupakan tempat pemujaan
roh-roh leluhur. Candi tersebut merupakan bangunan suci agama Syiwa,
yang di Indonesia berbentuk lingga dan digambarkan secara realistis
sebagai alat kelamin laki-laki. Kenyataan lainnya adalah adanya ruang
pemujaan di candi utama yang digunakan untuk bersembahyang.
Keberadaan Candi Sukuh merupakan tempat
peribadahan yang suci dan menjadi saksi atas ketaatan sebuah generasi
dan keutuhan sebuah masa yang begitu mengagungkan nilai-nilai
kebudayaan dan peribadahan. Pendirian peninggalan ini tentunya
mempunyai makna dan maksud berupa ajaran hidup bagi umat dan
masyarakatnya, tentunya hal ini merupakan salah satu nilai penting yang
perlu kita gali dan kita terjemahkan dalam hidup kita sesuai dengan
keyakinan kita. Kessederhanaan candi Sukuh adalah salah satu wujud
karya nenek moyang yang tiada ternilai harganya, maka picik bagi kita
sebagai generasi pewaris bila tak ada niatan untuk tidak turut berbagi
dalam upaya pelestarian nilai-nilai dan kandungan yang tersimpan
didalamnya.
Candi Sukuh pada jamannya juga merupakan
tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ruwatan).
Bukti-bukti bahwa Candi Sukuh merupakan tempat untuk upacara
pengruwatan yakni: (a) Relief Lingga-yoni di gapura pertama selain
berfungsi sebagai “suwuk” juga berfungsi untuk “ngruwat” siapa saja
yang memasuki candi. (b) Relief Sudamala yang menceritakan Sadewa
“ngruwat” Sang Durga. (c) Relief Garideya yang menggambarkan Garuda
“ngruwat” ibunya yang bernama Dewi Winata. (d) Prasasti tahun 1379 Saka
dipunggung sapi yakni kata “pawitra” yang berarti air suci (air
pengruwatan).
Sumber : http://noenkcahyana.blogspot.com/2010/10/candi-sukuh.html
Subscribe to:
Posts (Atom)